Pagi menyusup pelan lewat celah jendela kayu kecil, menghangatkan kamar sederhana yang dihuni dua jiwa: seorang ibu dan putrinya yang masih terlelap dengan rambut ikal kecokelatan menutupi pipi mungilnya. Di luar, aroma roti hangat dari boulangerie tua mulai merambat, bercampur dengan semilir udara musim semi. "Riri… bangun, sayang. Hari ini Mama ajak kamu lihat bebek di danau, remember?" bisik Kaylana sambil mencium kening putrinya. Aurelia mengerang pelan, memeluk guling kecil boneka kelinci bernama Bonbon. "Masih ngantuk..." "Kalau masih ngantuk, nanti Mama jalan sendiri ke danau. Katanya Riri mau kasih makan bebek?" Aurelia langsung membuka satu matanya. "Tapi Bonbon juga ikut ya?" "Of course," Kaylana tersenyum, lalu menyibak tirai jendela. Cahaya pagi menerangi wajahnya yang leb

