Sembilan bulan telah berlalu. Di dalam kamar luas bergaya klasik Prancis yang seharusnya memberi kenyamanan, Liana justru merasa seperti burung yang dikurung dalam sangkar emas. Keheningan mencekam, padahal ruangan itu dipenuhi perabot mahal dan lukisan tua yang digantung indah di dinding. Namun tak ada yang lebih sunyi dari hatinya sendiri. Virion tidak pernah datang. Bukan sekali pun sejak malam itu. Yang ada hanya pengawal di balik pintu, dokter yang rutin datang memeriksa kandungannya, Dona yang setia mengurus segala kebutuhannya. Liana mencoba tampak tenang setiap harinya, berbicara lembut pada bayi dalam kandungannya, tapi hatinya retak sedikit demi sedikit. Ia ingin membenci Virion—ia harusnya membenci pria itu. Tapi rasa benci itu tak lagi tajam. Yang tersisa hanya kehampaan da

