Langit telah menjelaga saat Zayn mengajak Albert meninggalkan kantor. Jam dinding menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit, sementara dua lelaki itu telah mendapatkan sedikitnya tujuh panggilan masuk dari istri masing-masing sejak jam lima sore. Albert melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menembus pekatnya malam. "Apa yang Anda pikirkan Tuan?" Albert memberanikan diri untuk bertanya, pasalnya sejak tadi dilihatnya Zayn diam dengan wajah frustasi. "Ada banyak Al. Ada banyak hal yang aku pikirkan." Membuang napas berat, menjeda kalimatnya sebelum kembali membuka mulut. "Aku hanya merasa sepertinya Tuhan tak adil padaku. Aku hanya menginginkan kehidupan rumah tangga yang bahagia bersama Irene, aku tak peduli jika seandainya kami hanya hidup serba kecukupan, asalkan tidak dihadapk

