Irene mengerucutkan bibirnya sebal, sejak tadi dia terus menggerutu karena merasa tak nyaman dengan perlakuan Zayn padanya. Oh, ayolah. Irene hanya hamil dan Zayn memperlakukan dirinya seolah gadis itu pesakitan. Jangan begini, tak boleh begitu. Harus begini, harus begitu, tak ada ruang bagi Irene untuk membantah. Zayn sungguh berubah menyebalkan baginya. "Eits! Sudah aku katakan untuk jangan bermain-main dengan senjata tajam. Kau tahu ini sangat berbahaya?" Irene memutar bola matanya malas, pisau yang ia gunakan untuk memotong belimbing telah berpindah tangan. "Aku hanya sedang mengiris belimbing Zayn," tukas Irene. "Ya, tapi tanganmu bisa tergores nanti." "Aku akan hati-hati melakukannya, tidak perlu khawatir begitu. Lagi pula kalau hanya tergores juga tidak sampai membuatku mati Z

