105. Kejutan

1695 Kata

Dalam keheningan malam, pencahayaan yang redup membuat suasana ruangan itu semakin mencekam. Richard menyandarkan kepalanya di bahu sofa, tatapannya kosong menatap langit-langit kamar. Sudah sangat lama pria itu hidup dalam kesepian semenjak sang ayah berpulang ke rumah Tuhan beberapa tahun lalu. Hidup sebatang kara, seandainya saja dia tidak memiliki tujuan, mungkin sudah sedari dulu saja dia mengakhiri hidupnya. Pintu diketuk. Richard yang sedang asyik menikmati setiap luka dan kesunyian yang senantiasa ia nikmati ketika malam, pun beranjak. "Oh, kamu." "Ya Tuan, maaf saya datang malam-malam begini," ucap Pria berambut cepak itu. "Silakan masuk," lirih Richard. Kedua pria itu saling duduk berhadapan dengan meja sebagai pembatas. "Kau bisa membuat kopi sendiri jika mau," kata Richa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN