Seperti menit yang terus berjalan, hari kian berganti menjadi bulan. Selama bulan berlalu, Zayn selalu dikejutkan dengan tingkah unik Irene. Selalu ada saja yang membuat Zayn mati kutu. Begitulah dia menjalani perannya, meskipun terkadang terkesan protektif, tapi seringkali Zayn mengalah demi kebahagiaan sang istri. "Sayang ... Sudah selesai belum, kenapa lama sekali?" Zayn berteriak di depan kamar ganti. "Sayang." Pintu terkuak, Irene menampilkan raut wajah hampir menangis. "Lho, kenapa menangis? Ada yang sakit? Apa yang dirasa, heum?" Membimbing tubuh itu untuk duduk di sofa, Zayn juga menyodorkan segelas air putih untuk istrinya. "Aku tidak mau pergi! Aku mau di rumah saja," racau Irene. "Hei, memangnya kenapa?" Menaikkan dagu runcing Irene dengan jari telunjuknya. "Bagaimana mau

