BAB 1
Malam — pukul 21.00
Di depan gerbang rumah megah milik Bumi, Davina—gadis 19 tahun bertubuh seksi dengan mata bening yang penuh rasa penasaran—berdiri mematung. Nafasnya menderu pelan, bukan karena lelah… tapi karena gugup.
"Ya Tuhan… Ini beneran rumah Om Bumi?"
Empat tahun telah berlalu sejak malam yang tak pernah bisa Davina hapus dari ingatannya. Malam ketika tanpa sengaja ia melihat tubuh lelaki dewasa itu—telanjang, dibasahi keringat, dan terlalu memabukkan untuk dilupakan oleh gadis SMP polos yang saat itu bahkan belum mengerti arti hasrat.
Sejak malam itu pula, penolakan dingin Bumi menghantamnya tanpa ampun—merobek kepolosannya, memecahkan kekaguman pertamanya, dan meninggalkan luka halus yang pelan-pelan berubah menjadi obsesi.
“Kamu masih kecil. Bukan tipeku.”
Kata-kata itu menampar lebih keras dari yang pernah ia ungkapkan kepada siapa pun.
Kini, Davina berdiri di depan rumahnya.
Bukan sebagai gadis kecil yang dulu ia tolak—
Melainkan sebagai perempuan dewasa muda yang jauh berbeda.
Belum sempat ia menarik napas panjang, pintu terbuka.
Sosok Ayu, istri Bumi, muncul dengan senyum ramah.
“Davina, ya? Ayo masuk. Om sama tantemu udah kasih kabar kalau mulai malam ini kamu dititipkan di sini.”
“Oh, iya, Tan,” jawab Davina sopan. Walau dalam hati, dadanya seperti dihantam sesuatu.
Istri Bumi. Rumah Bumi. Namun… di mana Bumi?
Begitu melangkah masuk, suara langkah ringan terdengar dari tangga.
Raya—anak Bumi berusia 8 tahun dengan piyama kelinci—berlari turun sambil menenteng boneka.
“Mama! Tante cantik itu siapa?”
Mata bulat kecilnya memandangi Davina lama-lama—terpaku sekaligus heran.
Siapapun akan begitu malam ini.
Davina bukan gadis biasa.
Seperti yang sudah disinggung tadi, malam ini ia hadir sebagai perempuan dewasa muda—yang benar-benar mampu menggoyahkan hasrat pria mana saja.
Kemeja putih tipis yang membungkus tubuhnya tampak nyaris menempel di kulit, transparan halus hingga memperlihatkan bayangan lembut lekuk payudaranya. Dua kancing teratas sengaja dibiarkan terbuka, memberi celah kecil pada kulit dadanya yang hangat memantulkan cahaya. Ujung kemeja justru ia ikat ke atas—menyingkap sedikit pusar dan perutnya yang mulus serta ramping, memberi kesan menggoda tanpa harus berusaha.
Rok mini ketatnya membalut pinggul dengan pas—terlalu pas—hingga langkahnya saja terasa seperti godaan. Kakinya yang jenjang dan mulus tampak berkilau, sementara rambut pirangnya terurai lembut di bahu, jatuh dengan manja setiap kali ia menoleh.
Penampilannya kontras sekali dengan suasana rumah keluarga harmonis itu.
Sangat ABG.
Sangat seksi.
Sangat… berbahaya.
Raya menatapnya lama, seperti melihat boneka Barbie hidup yang muncul tiba-tiba di rumahnya.
Davina tertegun sesaat.
“Jadi ini… anak Om Bumi?”
“Dan perempuan berhijab berwajah lembut ini… istrinya?”
Ayu menepuk lengannya pelan. “Davina? Kok bengong?”
Gadis itu tersentak kecil, lalu mengangkat wajah sambil tersenyum manja.
Senyum yang terlalu dewasa untuk usianya—senyum yang bisa membuat pria mana pun berhenti berpikir.
“Eh! Iya. Maaf.” Dengan gerakan lembut ia menyibakkan rambut pirangnya ke belakang telinga, dan menunduk sedikit ke arah Raya dengan gaya menggoda yang halus tapi jelas.
“Halo cantik…" suaranya lembut dan manis. "Aku Davina. Panggil aja Tante Davina.”
Raya langsung memeluknya tanpa ragu, membuat Ayu terkekeh.
Sama sekali tidak sadar bahwa gadis 19 tahun di depannya bukan hanya sekadar tamu.
Aura Davina terlalu kuat untuk diabaikan. Terlalu sensual untuk dianggap polos.
“Mulai malam ini Tante Davina tinggal di sini, ya.”
Raya langsung bersorak.
“Horeee! Raya ada temennyaaa!”
Davina ikut tertawa, membalas pelukan bocah itu, namun hatinya sesekali mencuri waktu untuk berdebar.
Ada satu hal yang terus mengusik pikirannya:
“Om Bumi di mana?”
Hatinya mulai gaduh.
Tak sabar.
Dan… sedikit nakal.
Ketika Ayu memanggil Mbok Ijah untuk mengantar Davina ke kamar, pikiran gadis itu melayang semakin jauh.
“Apa Om Bumi masih setampan dulu?”
“Masih punya badan kekar itu?”
“Dan tatapan dingin yang dulu sempat bikin aku sakit hati?”
Ia bahkan belum sempat membangun fantasi lebih jauh ketika—
BRAAAAK!
Gerbang depan terbuka keras.
Sebuah mobil hitam memasuki halaman.
Suasana mendadak terdiam.
Ayu menoleh.
Raya berhenti memeluk bonekanya.
Davina membeku.
Lampu mobil padam.
Pintu terbuka.
Dan keluar dari dalamnya—
Bumi (40 tahun)
“Papa pulang!!” Raya berlari, menubruk sang ayah.
Bumi—lelah, maskulin, aura dinginnya begitu terasa—mengangkat Raya dengan mudah. Senyum kecil muncul di wajahnya, senyum tipis yang terasa mewah karena jarang ia tunjukkan.
Ia masuk ke dalam rumah.
Langkahnya mantap, tenang, penuh wibawa.
Namun bagi Davina… setiap langkah pria itu seolah memperlambat waktu.
"Astaga..."
"Om Bumi semakin tampan."
"Bahkan jauh lebih tampan dari semua bayanganku selama empat tahun ini.'
Kemeja yang tergulung sampai siku memperlihatkan lengan kokoh itu.
Dasi longgar…
Rambut sedikit berantakan…
Aura lelah tapi seksi…
Wajah dewasa itu memancarkan ketenangan yang dingin—jenis ketenangan yang justru bikin jantung perempuan bergetar dan lutut melemas.
Davina menelan ludah.
“Pria ini… makin nggak manusiawi gantengnya.”
Begitu Ayu memperkenalkan, “Mas, ini lho Davina. Keponakannya Devan dan Lisa. Dia sudah sampai.”
Bumi hanya menoleh—
Sekilas.
Tatapannya singkat, datar, dan… seperti tidak mengenalinya sama sekali.
Anggukan kecil.
Pendek.
Tertutup.
Dingin.
Lalu kembali menatap ke arah lain.
Davina terdiam.
Lalu memanyunkan bibirnya sedikit—manja, kesal, tapi justru semakin tertantang.
“Iiiih… Om Bumi dingin banget sih! Om ini seriusan nggak inget aku?”
Dalam hatinya, ia merajuk seperti anak kecil, namun dengan cara yang menggoda.
“Dulu aku cuma anak SMP, Om… Sekarang aku udah gede. Masa sih Om beneran nggak lihat apa-apa?”
Namun Bumi sama sekali tidak memberi ruang, bahkan sedetik pun, untuk mengamatinya.
Tatapannya lewat begitu saja—dingin, datar—seolah kecantikan dan penampilan seksi gadis itu tidak ada nilainya di matanya.
Seolah Davina hanyalah angin lalu.
Seolah rok mini ketat dan kemeja tipis transparannya… tidak berarti apa-apa.
“Ya udah, Sayang. Mas ke kamar dulu,” ucap Bumi lembut pada Ayu.
Dan tanpa memberikan Davina kesempatan untuk memancing satu lirikan pun, ia berjalan pergi begitu saja menggendong Raya.
Tanpa menoleh.
Tanpa bertanya.
Tanpa peduli.
Tatapan itu—dingin, acuh, nyaris tidak menganggap keberadaannya—justru membuat sesuatu di dalam diri Davina menyala.
Bukan sakit hati.
Tapi…
Tantangan.
Ia memandang punggung pria itu yang semakin menjauh.
Tinggi.
Kokoh.
Sempurna.
Lalu bibirnya melengkung pelan—senyum sensual yang tidak pernah ia sadari selalu muncul saat ia merasa tertantang.
“Baiklah, Om Bumi…” bisiknya lembut.
“Sikap dingin kayak gitu cuma bikin aku makin pengen liat Om ngelirik aku nanti.”
Ia mengusap rambutnya ke belakang, menggigit bibir bawahnya pelan.
“Om akan inget aku.
Dan Om bakal nyesel karena pura-pura nggak kenal.”