Setelah mengantar Raya ke kamarnya, Bumi berjalan masuk ke kamar utama.
Kamar yang ia bagi bersama Ayu—hangat, rapi, beraroma lavender. Tempat ia biasanya melepaskan segala beban.
Ayu langsung mendekat.
Gerakannya lembut seperti biasa. Membuka dasi, melonggarkan kerah, lalu satu per satu melepaskan kancing kemeja suaminya.
Baru saja kemeja itu terlepas dari bahunya, Bumi bicara.
“Sayang…” suaranya rendah. Ada berat yang tidak biasa.
“Kamu serius ngizinin Davina… atau siapa itu namanya… keponakan Devan dan Lisa tinggal di sini?”
Nada ia menyebut nama “Davina” terdengar dingin. Asing. Seolah ia benar-benar tidak pernah mengenal gadis itu sebelumnya.
Padahal di kepalanya—memori itu jelas, tajam, masih hidup.
Memori empat tahun lalu saat ia tinggal seminggu di rumah Devan dan Lisa karena urusan kerja.
Pada saat itu...
Bumi baru pulang kerja.
Tubuh basah keringat. Lengan dan d**a berkilau lembap. Nafasnya berat, ingin mandi secepat mungkin.
Ia masuk ke kamar tamu sambil menarik kemejanya.
Kancing terlepas.
Kain jatuh dari bahu.
Dada bidang berbulu itu langsung terlihat jelas.
Dan tiba-tiba—
Cekrek.
Pintu terbuka.
Seorang bocah SMP, ceroboh sekaligus terlalu polos, berdiri di sana.
Davina.
Sebelum Bumi sempat menutup d**a atau menarik handuknya, bocah itu langsung berlari menghampirinya dan memeluk pinggangnya.
“Om Bumi… Davina sayang Om…”
Suara manja. Lembut. Dekat sekali.
Bumi membeku total.
“D-Davina?! Astaga—kamu ini kenapa masuk tanpa ket—lepasin!”
Ia mencoba melepas tangan kecil itu dari pinggangnya, panik, grogi, kesal dan malu jadi satu.
Tapi Davina malah memeluk lebih erat.
Kepalanya bersandar manja ke d**a Bumi yang masih berkeringat.
Seakan itu tempat favoritnya.
Seakan ia nyaman di sana.
Bumi tidak bergerak.
Hanya berdiri terpaku, wajahnya panas, jantungnya kacau.
Tidak tahu harus marah, takut, atau bingung.
Satu hal yang ia ingat jelas:
Memori itu melekat.
Dan berbahaya.
Kembali ke masa kini.
Bumi mengusap wajahnya kasar, seolah ingin mencabut memori itu dari otaknya.
Ayu menatap suaminya bingung.
“Mas… memangnya ada apa dengan Davina?”
Bumi menggeleng cepat. “N-nggak. Nggak ada apa-apa, Sayang.”
Suaranya gugup, jelas berusaha menutup sesuatu.
“Tapi… aku nggak yakin kehadirannya di rumah ini keputusan yang tepat.”
Ayu menghela napas.
“Ya ampun, Mas… bukan keputusan yang tepat gimana sih?!”
Ia mendekat, memegang lengan Bumi, suaranya lembut tapi tegas.
“Davina itu keponakan sahabatmu, Mas. Devan dan Lisa lagi jatuh banget. Rumah disita, bisnis mereka hancur, dan sekarang harus ke Singapura buat ngurus semuanya. Mereka cuma minta tolong nitip keponakannya sementara.”
Bumi menunduk.
Ia tahu Ayu benar.
Tapi memori itu… terlalu jelas.
Ayu melanjutkan.
“Atau… Mas risih karena penampilan Davina?”
Ia tersenyum kecil, nada bercandanya tipis.
“Mas, dia itu masih ABG. Lagi nyari jati diri. Dulu aku juga kayak gitu. Aku aja baru mutusin pakai hijab setelah setahun nikah sama Mas.”
Kalimat itu menampar Bumi diam-diam.
Mengembalikan kesadarannya.
Ia membuang napas panjang.
Lelah. Campur frustasi.
“Ya sudah. Terserah kamu.”
Nada pasrah.
“Mas capek. Mas mandi dulu.”
Ayu akhirnya tersenyum, lega.
“Baik. Aku siapin makan malamnya di bawah ya.”
Setelah mengatakan akan mandi, Bumi baru melangkah beberapa langkah ketika ponsel Ayu berbunyi.
Tring!
Ayu berhenti. Melihat layarnya. Dan wajah lembutnya langsung berubah.
Bumi yang sudah berada di ambang pintu kamar mandi menoleh. “Siapa?” tanyanya, nada curiga tak bisa ia sembunyikan.
Ayu menghela napas pelan. “Erinka… Mas.”
Sekejap, rahang Bumi mengencang.
Dan ia kembali mendekat, meninggalkan rencana mandinya.
“Kenapa? Dia nyuruh kamu jagain Mama lagi?”
Ayu menunduk. “Mas… Mama sakit. Aku anaknya. Masa aku biarin?”
Bumi menyandarkan satu tangan ke meja rias, menatap istrinya tajam tapi penuh lelah.
“Aku bukan nyuruh kamu biarin. Aku Cuma nanya: kenapa selalu kamu?”
Ia mendekat selangkah lagi.
“Ada Erinka. Ada Mas Gibran. Ada Mbak Arumi. Mereka semua anaknya juga,”
Suara Bumi mulai pecah.
“Kenapa harus kamu terus?”
Ayu mencoba tersenyum kecil, walau matanya mulai panas.
“Mereka itu kerja, Mas. Aku nggak. Jadi aku yang harus jagain Mama. Itu kan sudah kewajibanku sebagai anak.”
Bumi mendengus tertawa miring—tawa yang getir, bukan senang.
“Dan kewajiban kamu sebagai istri?”
Ia menatap mata Ayu tanpa berkedip.
“Sebagai ibu?”
Ayu menggerakkan bibirnya, ingin bicara, tapi tak ada suara yang keluar.
Bumi mengembuskan napas panjang, lalu menarik Ayu ke pelukannya.
Pelukan yang erat. Berat. Putus asa.
“Mas kangen sama kamu…” bisiknya di dekat telinga istrinya.
“Kamu tahu nggak? Mas baru pulang setelah sebulan di London. Sebulan.”
Ia mengecup pelan rambut Ayu.
“Mas cuma ingin kamu ada di sini. Sama Mas. Sama Raya. Setidaknya malam ini. Malam pertama setelah kepulangan Mas dari London.”
Pelukan itu terasa seperti seseorang yang sudah menahan rindu sampai tulang—dan akhirnya pecah.
Namun tepat saat Bumi hendak melanjutkan ucapannya—
Tring!
Chat masuk lagi.
Ayu langsung tersentak, melepaskan pelukan Bumi seperti tersengat.
“Aku harus ke rumah sakit, Mas.”
Nada suaranya tegas tapi penuh rasa bersalah.
“Mama sendirian. Aku nggak bisa tinggal diam.”
Ia meraih tas kecilnya dengan tangan gemetar—karena ia tahu keputusan ini akan kembali melukai seseorang.
“Ayu, Sayang—tunggu!”
Bumi mengikuti istrinya keluar kamar sambil meraih kemeja, memakainya dengan gerakan terburu-buru.
Mereka menuruni tangga.
Di meja makan, Mbok Ijah tengah menata hidangan.
Raya dan Davina duduk menunggu.
Ayu masih melangkah cepat. “Mbok, besok siapkan pakaian kerja Mas Bumi dan pakaian sekolah Raya, ya…”
Davina mengerutkan dahi. Ia bisa merasakan sesuatu tidak beres.
Belum sempat Mbok Ijah menjawab, suara kecil yang pecah memotong udara.
“Mama mau ke mana…?”
Raya berdiri, matanya langsung berkaca-kaca.
“Ke rumah sakit lagi?”
Bocah itu menangis.
Tangis yang bukan keras… tapi dalam.
Tangis anak yang terlalu sering merasa ditinggalkan.
Ayu berjongkok, memeluk putrinya erat. “Iya, Sayang… Oma sendirian…”
Lalu ia berdiri lagi—dan pergi.
Begitu saja.
Tanpa menoleh.
Bumi turun beberapa anak tangga terakhir dengan langkah besar.
“Ayu, Sayang! Lihat itu—lihat Raya! Kamu nggak lihat betapa kecewanya dia?!”
Tapi Ayu sudah tidak mendengar.
Menutup pintu.
Masuk mobil.
Dan melaju.
Bumi berdiri di depan pintu, memejamkan mata.
Bahunya naik turun.
Dadanya sesak.
Ia meremas rambutnya kuat-kuat—frustrasi, marah, sedih jadi satu.
Lalu—
“AAARGHHHH—SIAL!”
Tinju Bumi menghantam tembok.
Davina spontan tersentak.
Mbok Ijah pun ikut kaget.
Raya menangis makin keras, tubuh mungilnya gemetar.
“Hiks… Besok kan Raya semester… kalau Mama nggak ada… siapa yang siapin semua? Siapa yang ajarin Raya?”
Tangisannya pecah seperti gelas tipis.
Mbok Ijah mengusap punggung bocah itu, namun suaranya pun ikut bergetar.
“Sssttt… Udah, Non… kalau Mama nggak ada, Mbok urus semuanya.”
“Tapi Mbok salah-salah terus ngajarin Raya…”
Bocah itu terisak.
Davina yang sejak tadi diam, akhirnya bergerak mendekat.
Ia berjongkok, menyentuh lutut Raya perlahan.
“Raya… Sayang...”
Suaranya lembut, menenangkan.
“Jangan lupa. Sekarang kan ada Tante Davina. Kalau Mama nggak bisa, Tante Davina bisa bantu semua.”
Raya mengangkat wajah dengan air mata menggantung.
“B-beneran? Tante janji?”
Davina tersenyum, menatapnya penuh kasih sayang.
“Janji.”
Raya langsung memeluk Davina erat—seketika menempel seperti anak yang menemukan pelukan pengganti.
Mbok Ijah ikut tersenyum kecil melihatnya.
Davina pun mengusap rambut Raya dengan lembut, menenangkan, sambil tetap memegang pelukan itu.
Hingga akhirnya, tanpa ia sadari…
Tatapannya bertemu dengan Bumi.
Bumi berdiri diam.
Dada masih naik turun.
Tengah berjuang menyusun ulang emosinya.
Ia menatap Davina…
Dan dalam sekejap, kenangan empat tahun lalu kembali menampar pikirannya.
Davina spontan menggigit bibir bawahnya, buru-buru mengalihkan pandangannya. Entah kenapa... salah tingkah.
Bumi segera mengalihkan wajah.
Dingin.
Jauh.
Hancur.
Tanpa sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah pergi kembali ke kamar—meninggalkan ruang makan yang penuh aroma luka, rindu, dan kesepian.
Setelah sadar Bumi sudah benar-benar pergi, Davina mendengus kecil. Bibirnya langsung manyun, semanis protes anak kecil namun tetap terdengar genit.
“Iiiih… Om Bumi masih sama. Serem kalau lagi marah," gerutunya pelan, suaranya merajuk.
Namun beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah pelan-pelan.
Bibir yang tadi manyun itu melengkung nakal.
Ada kilatan jahil di matanya—kilat yang menunjukkan bahwa sikap dingin Bumi barusan sama sekali bukan penghalang.
Dia tidak berniat mundur untuk mendekati.
Tidak sekarang.
Tidak besok.
Tidak pernah.