BAB 3

1947 Kata
Pagi pun tiba… Seperti janjinya semalam kepada Raya, pagi-pagi sekali Davina sudah bangun. Rambutnya masih sedikit kusut, pipinya lembut sembab kantuk, tapi semangatnya jelas—lebih dari sekadar ingin membantu. Ada tujuan lain yang membuat langkahnya ringan pagi ini. Mbok Ijah sudah sibuk di dapur ketika Davina muncul. “Ya udah, Non,” ucap Mbok Ijah sambil menyiapkan sarapan. “Terima kasih ya, sudah mau bantuin Mbok ngurus keperluan Non Raya.” Davina tersenyum kecil, manja. “Iya, Mbok. Davina senang kok.” “Kalau gitu, Mbok ke kamar Pak Bumi dulu ya. Mau siapin pakaian kerjanya—” “Eh, nggak usah Mbok.” Davina buru-buru memotong kalimat itu. Perlahan, ia menggigit bibir bawahnya dan tersenyum menggoda. “Sekalian aja… biar semua Davina yang urus.” Nada suaranya terdengar ringan, tapi ada sesuatu di baliknya. Sesuatu yang hanya Davina sendiri yang tahu: Kesempatan. Kesempatan untuk mendekat. Kesempatan untuk melihat pria yang sejak dulu memenuhi kepalanya. Mbok Ijah yang sedang banyak pekerjaan langsung tampak lega. “Beneran Non? Ya Gusti… makasih banyak, Non Davina.” Davina mengangguk. “Iya, Mbok. Sama-sama.” Dengan langkah pelan namun penuh antusias, Davina naik ke lantai dua. Awalnya ia ingin membangunkan Raya dulu—tapi begitu sampai di depan kamar bocah itu, langkahnya berhenti. Pintu sedikit terbuka. Davina mengintip… Dan senyum tipis terukir di bibirnya. Bumi duduk di kursi kecil di samping ranjang putrinya. Kepalanya tertunduk, bahunya sedikit jatuh, napasnya tenang. Tertidur di posisi itu—sambil menggenggam tangan Raya yang memeluk guling. Wajah Bumi tampak lelah. Sangat lelah. Seolah beban pikirannya belum juga sirna. Suasana itu… entah kenapa membuat d**a Davina menghangat. Ia menatap lama—terlalu lama—sebelum akhirnya mengalihkan pandangan dengan pelan. Ia tidak masuk. Tidak membangunkan siapa pun. Tidak membuat suara sedikit pun. Ia melangkah pergi… Bukan ke kamar Raya, bukan ke dapur, tetapi ke arah kamar utama. Kamar milik Bumi dan Ayu. Begitu ia membuka pintu dan melangkah masuk, udara di dalam ruangan terasa berbeda. Davina terdiam. Matanya membesar, menatap ruangan itu seperti seorang gadis kecil yang baru masuk istana raksasa. Kamar itu luar biasa besar. Lampu kristal menggantung berkilau, tirai sutra menjuntai lembut, perabotan kayu jati berukir tampak mahal, semuanya tertata sempurna. Ranjang besar dengan headboard beludru berdiri anggun di tengah ruangan, terlihat sempurna dengan sprei putih bersih dan bantal-bantal yang tertata rapi. Meja rias bertabur emas memantulkan cahaya pagi. Dan kamar mandinya… Lebih luas daripada kamar tidur tempat Davina menginap. Ia berjalan pelan, jemarinya menyentuh pinggiran meja rias, tirai, sandaran kepala ranjang… seperti sedang menjelajahi kehidupan seseorang. Namun ada sesuatu yang menggelitik perasaannya. Semuanya terlalu rapi. Terlalu bersih. Terlalu… sunyi. Tidak ada jejak Ayu di meja rias. Tidak ada benda pribadi Bumi yang berserakan. Tidak ada selimut acak-acakan yang menunjukkan kehangatan semalam. Tidak ada tanda-tanda bahwa kamar ini dihuni pasangan yang saling merindukan. Kamar ini sempurna. Namun rasanya dingin. Dingin seperti hubungan yang sudah lama tidak disentuh cinta. Davina menghembus napas pelan—dan senyum nakal muncul di wajahnya. Tatapannya jatuh pada foto besar di dinding. Bumi, Ayu, dan Raya. Tersenyum hangat, pelukan penuh kebahagiaan. Keluarga sempurna. Setidaknya di foto. Davina mendekat, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari foto itu. Ia menatap Bumi dalam bingkai itu, lama… Senyum kecil muncul, lembut sekaligus tajam. “Om Bumi…” Bisikannya manja, nakal, dan penuh obsesi. “Mulai hari ini… Davina yang bakal melayani semua kebutuhan Om.” Setelah puas bermain dengan imajinasinya di depan foto itu, Davina mulai menjalankan ‘tugas’-nya. Ia menyiapkan air hangat di kamar mandi Bumi, memastikan suhu air pas. Setiap gerakannya pelan, lembut, tapi fokus—seperti seseorang yang sudah sangat hafal bagaimana caranya merawat pria yang ia inginkan. Ia membuka lemari kayu jati yang begitu rapi. Jari lentiknya menelusuri jejeran kemeja Bumi sebelum memilih satu yang paling rapi, paling gagah, paling… cocok dipakai Om Bumi hari ini. Lalu dasi. Lalu jam tangan. Lalu sepatu. Semua ia pilih dengan teliti. Semua ia sentuh seolah setiap barang itu adalah perpanjangan dari tubuh pemiliknya. “Hmm…” gumamnya kecil sambil menggigit bibir pelan. “Nanti Om Bumi pasti keliatan makin ganteng…” Ia menahan tawa kecilnya sendiri. Ia bukan lagi sekadar tamu. Ia adalah seseorang yang siap mengambil tempatnya. Selesai dari kamar Bumi, Davina berjalan menuju kamar Raya. Di ambang pintu, ia sempat menghela napas. Membenarkan rambutnya. Mengatur nada bicaranya. Lalu ia mengetuk pintu dengan pelan. Tok… tok… tok… Bumi yang tertidur di kursi langsung tersentak bangun. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, napasnya masih berat. Dengan gerakan lambat, ia mengurut pelipisnya yang berdenyut, sisa dari malam panjang yang diwarnai pertengkaran dengan Ayu. Kepalanya terasa berat, pikirannya masih samar. Dengan suara parau, ia bergumam, “Ya Tuhan… aku ketiduran di sini?” Davina melangkah masuk dengan tenang, senyum tipis tersungging di bibirnya. “Maaf, Om Bumi, Davina mau membangunkan Raya. Dia harus segera bersiap untuk sekolah.” Davina berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara yang sedikit lebih lembut, hampir berbisik, “Dan… Davina juga sudah menyiapkan air hangat untuk mandi Om Bumi.” Bumi mengangkat kepala, menatapnya. Ada sesuatu di cara Davina bicara—sedikit terlalu lembut, sedikit terlalu akrab. Tapi Bumi mengabaikannya. Ia hanya mengangguk singkat sebelum bangkit dari kursi dan berjalan keluar kamar Raya. Namun, saat melewati Davina, gadis itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, cukup dekat hingga aroma samar dari tubuhnya—manis dan lembut menyeruak ke indera Bumi. Wangi yang bukan dari rumah ini. Wangi khas Davina—sensual. “Om Bumi,” bisik Davina pelan, suaranya menggelitik, “Mulai hari ini… Davina bakal selalu siap melayani Om. Apa pun yang Om butuh…” Bumi menghentikan langkahnya sesaat. Hanya sepersekian detik, tapi cukup bagi Davina untuk menangkapnya. Senyum di bibirnya semakin dalam. *** Setelah selesai mengurus Raya, Davina kembali menuju kamar utama. Ia mengetuk pintu dengan pelan. Tok… tok… Pintu terbuka, dan di ambang pintu, Bumi berdiri. Ia baru saja selesai mandi, hanya mengenakan handuk kimono yang melonggar di bagian dadanya. Uap panas masih mengepul dari kulitnya yang basah, dan aroma sabun khas lelaki itu menyebar ke udara. Davina tersenyum, tatapannya penuh arti. “Maaf, Om Bumi. Boleh Davina masuk?” Bumi sempat ragu, namun sebelum ia menjawab, Davina sudah melangkah masuk dengan lembut, seperti angin yang menyelinap tanpa izin. “Ini pakaian yang sudah Davina siapkan untuk Om Bumi,” ujarnya, sambil mengambil kemeja dan dasi yang sudah ia susun rapi sebelumnya. Tanpa menunggu persetujuan, ia mendekat, meraih kemeja tersebut, lalu dengan gerakan penuh kehati-hatian—atau lebih tepatnya, penuh perhitungan—ia mulai menyarungkan lengan kemeja ke tangan Bumi. Bumi terdiam. Biasanya ia tak suka disentuh orang lain, selain Ayu. Tapi kali ini… entah kenapa, ia hanya berdiri di sana, membiarkan gadis itu menyusup ke dalam ruang pribadinya. Davina tersenyum samar saat melihat Bumi tak menunjukkan perlawanan. Lalu, dengan perlahan, ia meraih dasi dan melingkarkannya ke leher Bumi. Gerakannya lambat, penuh kelembutan. Bibirnya sedikit bergetar seolah-olah ia tengah menahan sesuatu—atau mungkin justru sengaja menciptakan jarak yang begitu tipis di antara mereka. Saat mengencangkan simpul dasi, tubuhnya sedikit condong ke depan. d**a mereka hampir bersentuhan. Nafasnya terasa hangat di kulit Bumi. Bumi menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering. Namun tiba-tiba, sebuah kilatan masa lalu kembali menyambar ingatannya. Suara Bumi berat. Tegas. Empat tahun lalu. “Kamu masih kecil. Bukan tipeku.” Dan ia pergi meninggalkan gadis kecil itu menangis diam-diam. Bumi menarik napas dalam. Sesuatu dalam dirinya mengatakan untuk menghentikan ini. Ia pun segera mengambil dasi itu dari tangan Davina dan berkata, “Sudah, tidak apa-apa. Aku bisa memakainya sendiri.” Davina terdiam sejenak, lalu tersenyum—senyum kecil yang bukan kecewa, bukan sedih. Senyum yang seolah berkata: “Santai saja, Om… buat Davina, ini baru pemanasan.” “Baik, Om Bumi,” ujarnya lembut. “Davina keluar dulu.” Ia berbalik. Melangkah pelan menuju pintu. Namun tepat sebelum keluar, ia menoleh sedikit. Tatapannya dari ekor mata, menggoda tanpa berusaha. Bibirnya melengkung manja. Senyum seorang ABG nakal yang tahu betul bahwa permainan yang ia mulai… Belum ada apa-apanya dibanding apa yang akan datang. *** Setelah menyelesaikan semua tugasnya, Davina berjalan kembali ke dapur. Namun kali ini, langkahnya bukan sekadar kembali membantu Mbok Ijah. Ada sesuatu yang ia dengar dari arah teras depan—suara Bumi, Raya, dan Mbok Ijah sedang berbicara. Ia merapatkan langkah, berhenti tepat sebelum ambang pintu, lalu mendengarkan. “Raya, Sayang, kamu berangkat sekolah lebih dulu, ya,” suara Bumi terdengar lembut namun lelah. “Papa masih harus menunggu Dina mengantarkan berkas sebelum meeting.” “Baik, Papa!” Raya menjawab ceria lalu berlari kecil menuju mobil. Davina segera keluar, mengambil tas sekolah Raya dengan sigap. “Raya, sini sayang,” ujarnya sambil tersenyum manis. Ia memastikan bocah kecil itu naik ke mobil dengan aman, menutup pintu dengan hati-hati seolah itu adalah tugas penting yang hanya dia yang bisa lakukan. Begitu mobil berlalu dan suara mesin mulai samar, suasana di teras berubah lebih tenang. Mbok Ijah menatap Davina, wajahnya terlihat lega sekaligus terburu-buru oleh pekerjaan rumah. “Sudah, Non Davina nggak usah ikut ngantar,” katanya ramah. “Non Raya aman kok. Kalau Mbok boleh minta tolong lagi… tolong layani Pak Bumi, ya. Tawarkan teh atau kopi buat beliau.” Detik itu juga, sesuatu di mata Davina berkilat. Kesempatan. Pintu lagi-lagi terbuka untuknya. Perlahan, senyum tipis tersungging di bibirnya—senyum yang manis namun jelas menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam. “Baik, Mbok,” jawabnya dengan senyum samar. Davina melangkah ke teras, tempat Bumi duduk sendirian, menunggu sekretarisnya datang. Senyumnya tersungging, tatapannya teduh, tapi ada kilatan menggoda di sana. “Om Bumi, mau Davina buatkan teh, kopi, atau…” Ia sengaja menggantungkan kalimatnya, membiarkan suara lembutnya melambat, penuh kesan misterius. Tubuhnya sedikit mencondong ke depan, mendekat, hingga aroma tubuhnya samar-samar tercium. Bibirnya melengkung tipis, senyum yang tak biasa. Senyum yang berbahaya. “…susu?” Bumi, yang awalnya hanya melirik sekilas, tiba-tiba terpaku. Tatapannya tanpa sadar jatuh ke arah d**a Davina, yang sedikit menyembul dari belahan bajunya. Pemandangan itu terasa terlalu dekat, terlalu... menggoda. Seolah bukan hanya s**u di dalam cangkir yang sedang ditawarkan Davina kepadanya. Seolah ada s**u lain yang lebih menggoda. Lebih... spesial. Kerongkongan Bumi terasa kering seketika. Ia menelan ludah, buru-buru mengalihkan pandangan. Tapi entah kenapa, kata yang lolos dari bibirnya justru— “S-s**u…” gumamnya, suaranya serak dan nyaris bergetar. Davina tersenyum semakin nakal. Tersenyum penuh kemenangan. Ia bisa merasakan kebingungan dalam diri Bumi—dan ia menyukainya. “Baik, Om,” jawabnya dengan suara yang sedikit lebih lirih, lalu berbalik menuju dapur. Di dapur, Mbok Ijah melihat Davina menuangkan s**u ke dalam gelas. Alisnya mengernyit. “Lho, Non Davina itu buat siapa?” tanyanya heran. Davina tersenyum, mengaduk s**u itu dengan lembut. “Untuk Om Bumi, Mbok.” Mbok Ijah makin bingung. “Aneh. Biasanya Pak Bumi paling anti sama susu.” Davina hanya tersenyum, tak memberikan jawaban lebih. Ia mengangkat nampan berisi segelas s**u hangat dan melangkah kembali ke teras. Sesampainya di sana, ia berjongkok perlahan di hadapan Bumi, meletakkan gelas s**u di meja dengan gerakan yang lembut. Saat itu, dress yang sedang dikenakannya sedikit merosot, membuat bagian dadanya semakin terlihat. “Ini, Om Bumi. Susunya…” Bumi menelan ludah lagi. Degupan jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Perlahan, celananya terasa sesak. Pandangannya sempat turun ke bagian d**a montok Davina sebelum buru-buru ia mengalihkan wajah, mengambil gelas dengan tangan sedikit gemetar. Davina memperhatikannya dengan tatapan penuh arti. “Om Bumi…” suaranya seperti bisikan halus di antara hembusan angin pagi. “Davina senang bisa melayani Om Bumi…” Bumi diam. Jari-jarinya mencengkeram gelas lebih erat. Ia tidak bodoh. Ia tahu ada sesuatu di balik setiap kata dan tatapan Davina. Tapi yang membuatnya resah adalah, kali ini ia tidak menolak—berbeda dari kejadian empat tahun lalu. Kali ini ia justru duduk diam, membiarkan gadis itu terus bermain-main dengan godaannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN