TAMU TAK DIUNDANG

1405 Kata

Jelita menghapus air matanya yang semakin deras mengalir di pipinya. “Menangis? Kamu menangis? Ada apa denganmu?” Dina keheranan. Ia semakin merasa tidak suka melihat sosok Jelita Maharani. “Aku tidak melukaimu, tidak memukulmu atau melakukan kekerasan, jangan cengeng.” Jelita tahu kalau ia telah memperlihatkan kelemahannya di hadapan perempuan ini. Tapi, apa daya, memang perasaannya tak menentu. Sedih dan takut bercampur aduk. “A… Aku tidak begitu..” Jelita mencoba menjelaskan. Dina hanya tersenyum simpul sambil melipat kedua tangannya di d**a, “Bicara saja sulit. Aku tidak habis pikir, kenapa Banyu bisa termakan rayuanmu? “Jujur padaku, apa saja yang sudah kamu ambil dari rumahnya?” “A.. Aku tidak mengambil apapun,” Jelita menjawab dengan polos. Dina menggelengkan kepalanya, “A

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN