Banyu dan Ranu tiba di kediaman Sadina Parwati. Dina menyambutnya di teras depan. Awalnya senyum mengembang di wajahnya, namun setelah mengetahui suaminya datang bersama Ranu, senyum itu perlahan menghilang. Ekspresi wajahnya menunjukkan rasa kecewa. Tadinya, ia berharap Banyu hanya sendirian. Tapi bagaimana lagi? Ranu sudah di sini, dan aku tidak mungkin mengusirnya. Mau tidak mau, aku harus menerimanya. “Kita bicara di ruang baca saja,” ajak Dina sambil membalikkan tubuhnya. Ia tidak ingin Banyu melihat kekecewaan yang mungkin tergambarkan di wajahnya. Ia melangkah terlebih dahulu ke ruang baca. Lalu ketiganya duduk di sofa saling berhadapan. “Ini,” Dina memberikan sebuah amplop pada Banyu. “Ini data data perusahaan yang melakukan investasi di perusahaan papa. Aku juga melampirka

