Sena tertidur dengan pulas di boks nya. Jelita hanya tersenyum memerhatikannya. Dengan adanya boks, Sena tidak harus tidur di bawah dan aku tidak was was meninggalkannya untuk memasak atau ke kamar mandi. “Rumah ini nyaman sekali. Banyu sungguh sungguh perhatian,” ungkap Ganika. “Di balik sosoknya yang terlihat dingin dan ‘galak’, ternyata dia…” Jelita tersenyum, “Itu sebabnya saat dia menceraikanku, rasanya dunia runtuh. Percaya tidak percaya… Karena.. Aslinya, dia sebaik itu…” Ia lalu duduk di samping sahabatnya di sofa kecil dekat televisi. “Bahkan, aku lihat isi lemari es pun penuh. Ada melon kesukaanmu pula,” Ganika geleng geleng kepala. “Aku tak percaya kalau sosok Banyu semanis itu. Sepertinya dia mengingat hal kecil mengenaimu. “Diam diam menghanyutkan.” Jelita mengangg

