Dina merasa gundah. Tanda tanya besar menyeruak di dalam dirinya. Ia jadi meragukan niat sang papa. Jangan jangan, papa memiliki rencana lain. “Aku harus mencari tahu,” gumamnya. Sebelum ayah kandung Gendis datang, sebaiknya dipastikan segalanya. Dina pun berjalan perlahan mendekati ruang kerja Adi Putra. Namun pintunya tertutup rapat. Ia memutuskan untuk memutar ke halaman belakang. Ruang kerja papanya itu memiliki jendela yang mengarah ke bagian belakang rumah. Dina mengendap endap ke area tersebut agar tidak terdengar siapapun. Untungnya, jendela tidak tertutup rapat. Ada celah yang membuatnya bisa sedikit mengintip ke dalam ruang kerja papanya. Dina celingukan memerhatikan situasi agar tidak ada staf rumah yang melihatnya. Ia memasang kupingnya dan mencoba mendengarkan pe

