Jelita langsung bangkit dari tempat tidur. “A.. Aku keluar dulu, kamu tunggu di sini. Jangan keluar,” Jelita panik dan bergegas keluar kamar tidur lalu menutup pintunya. Tepat saat ia keluar dan menutup pintu, Ibu Ajeng muncul di anak tangga teratas, “Mbak, ada lontong sayur.” “Terima kasih bu,” Jelita mengambil baki berisi mangkuk lontong tersebut lalu menyimpannya di meja makan. “Ini terlihat enak sekali…” Ibu Ajeng tergelak, “Ibu membuatnya sendiri, semoga kamu suka. “Habiskan ya.” “Baik buk,” Jelita menatap porsi lontong sayur yang begitu banyak. Rasanya aku tidak mungkin menghabiskannya sendiri. Ajeng kemudian mengelus perut Jelita, “Kapan kamu lahir nak… Nenek ingin ketemu kamu.” Jelita tergelak, “Estimasi di minggu depan buk.” “Wah sebentar lagi. Jaga kondisi mbak,” ucap

