Jelita menatap Banyu dan tersenyum. “Kenapa kamu melamun?” tanyanya. “Apa yang kamu pikirkan?” Banyu membelai rambut mantan istrinya, “Aku ingin bisa berada di sisimu saat melahirkan. Hanya saja… Kalau orang itu tahu aku menghubungimu dan bahkan menemuimu, kamu dan Sena bisa berada dalam bahaya. “Sementara itu, aku belum bisa mengakuimu secara terang terangan karena ada hal yang sedang aku tindaklanjuti. Kalau sampai dia tahu, semua rencanaku bisa kacau balau.” Jelita mengedipkan kedua matanya berulang kali. Ada rasa cemas yang mendera di dirinya. “Orang itu? Mmm… Mertuamu?” tanya Jelita memastikan. Banyu mengangguk. Jelita menatapnya dengan perasaan khawatir, “Banyu, jangan membuat dirimu dalam bahaya. Bagaimana kalau kamu terluka? “A.. Aku tidak mau kamu terluka… Jangan.” Ia m

