Setelah sekitar setengah jam berlalu, Banyu turun ke lantai lobi. Ranu telah menunggunya di area drop off. Keduanya langsung naik ke dalam mobil.
“Bapak,” Rauf yang duduk di kursi depan menoleh ke belakang. “Ibu Dina naik ke lantai tujuh. Itu kamar hotel.”
Banyu terdiam selama beberapa saat.
“Apa masih ada yang stand by mengawasinya?” tanyanya.
“Masih,” Rauf menjawab.
“Ok,” Banyu diam diam menyeringai.
Apalagi yang dia lakukan selain menemui lelaki di sini?
Kalau Dina menemui seorang laki laki di hotel ini, akan bagus untukku. Ini semakin menguatkan bukti mengenai pernikahanku yang tidak dilandasi perasaan apapun.
Namun, lelaki yang ditemuinya… Apakah dia… Ayah kandung Gendis?
Banyu bertanya tanya.
Ia kembali bicara, “Saya minta laporan lengkap tentang kunjungan Dina ke hotel hari ini. Siapa tahu saja, kita bisa menemukan ayah kandung Gendis lebih cepat dari target.”
“Baik pak,” jawab Ranu.
Seketika, Banyu merasa tidak sabar. Ia berharap kalau memang Dina menemui lelaki yang adalah ayah kandung Gendis. Sehingga ia bisa segera berpisah dari istrinya itu.
Dan semoga saja, lelaki itu mau bertanggung jawab akan hidup Gendis.
Mobil pun bergerak menuju Adhiarja Tower.
>>>
Jelita kembali ke tempat kosnya dengan berbunga bunga. Senyum tak henti mengembang di wajahnya. Namun, tiba tiba saja, perutnya berbunyi.
Aku lapar.
Ia memutuskan untuk makan ayam serundeng kesukaannya. Jelita berjalan ke Rumah Makan Ayam Serundeng Bambu dan memesan seporsi ayam nasi kesukaannya.
Saat sedang makan, tiba tiba saja seseorang duduk di hadapannya.
“Hai…” Pram tersenyum lebar.
“Oh hai…” Jelita membalas sapaannya.
“Akhirnya…” Pram menarik kursi. “Aku sengaja ke sini dengan harapan bisa menemuimu.”
Jelita tersenyum, “Memang kenapa?”
Pram membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya, “Lihat ini.”
Mantan dokter kandungannya itu mengeluarkan mainan stetoskop anak kecil.
Jelita tertawa, “Untuk Sena?”
“Iya.. Aku akan mendoktrinnya dari dini agar menjadi dokter,” Pram tertawa.
Jelita kembali tertawa, “Semoga saja memang cita citanya menjadi dokter.”
“Dari Paman Pram untuk Sena…” Pram menyerahkan mainan tersebut ke tangan Jelita.
“Terima kasih paman baik,” Jelita merasa senang dengan perhatian yang diberikan untuk putranya tersebut.
“Sama sama…” Pram kemudian menikmati makanan yang ada di hadapannya.
Diam diam ia melirik perempuan cantik di hadapannya yang matanya berbinar binar.
Makin ke sini, kamu makin memesona…
Dari hari ke hari, keberadaanmu selalu ada dalam ingatanku.
My heart..
Apakah kamu merasakan yang aku rasakan?
Tanpa Jelita dan Pram sadari, dari seberang jalan sesosok laki laki mengamati mereka berdua. Seringai jahat muncul di wajahnya. Setelah mengambil foto keduanya beberapa kali, ia pun bergerak pergi.
>>>
Dina memasuki kamar tujuh satu tiga. Di dalamnya sudah ada lelaki itu.
“Akhirnya kamu datang juga… Apa aku harus selalu mengancam dengan nama Adi Putra setiap kali ingin menemuimu?”
Dina hanya menggeleng.
“Aku tidak ingin menemuimu. Kamu harusnya paham.”
Lelaki itu hanya menarik nafas panjang.
“Hubungan kita mungkin berakhir tapi kamu tidak berhak untuk membohongiku.”
Dina terdiam. Ia tahu kalau kebohongannya terbongkar.
“Kamu bilang keguguran. Tapi… Ternyata itu tidak benar. Itu sebabnya kita harus bicara. Ini serius… Aku merindukanmu dan dia..”
“Jangan bicara rindu atau apa. We’re over.”
“Itu perasaanku,” ia mendekat ke arah Dina dan menarik tubuhnya mendekat. Kedua matanya menatap tajam ke arah ibu dari anaknya tersebut. “Kenapa kamu membohongiku? Dan dimana dia sekarang?”
“Aku… Hanya tidak mau kamu berharap banyak dariku. Dia bukan anakmu. Jadi… Tidak masalah aku berbohong atau tidak.
“Soal keberadaannya, bukan urusanmu.”
Lelaki itu menyeringai sambil mempererat pelukannya, “Kamu sudah menjauhkanku darinya. Bahkan hanya tahu kelahirannya dari orang lain.”
Dina kembali mengelak.
“Dia bukan anakmu.”
Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak percaya.”
“Percayalah, dia bukan anakmu,” Dina melepaskan tubuhnya dari rangkulan lelaki di hadapannya.
“Tes DNA. Kita buktikan. Jangan mengelak,” ucapnya tegas sambil menarik tangan Dina agar tubuhnya kembali mendekat.
“Aku tidak mau,” Dina mencoba melepaskan dirinya.
“Aku akan terus ada di sekitarmu selama meyakini kalau anak itu adalah anakku. Satu satunya cara menyingkirkanku kalau terbukti anak itu bukan darah dagingku. Kamu paham?” lelaki itu mulai marah.
Dina terdiam. Namun kemudian, ia kembali membuka mulutnya.
“Aku tegaskan sekali lagi. TI DAK. Kalau papaku tahu, kamu ada dalam masalah.”
“Apa tidak terbalik? Kalau papamu tahu, kamu yang ada dalam masalah,” lelaki itu menyeringai.
Dina menggertakkan giginya karena kesal.
Lelaki di hadapannya itu benar.
Aku akan kena masalah kalau papa tahu mengenai hubunganku dengannya. Dia tidak boleh muncul. Tapi… Tes DNA itu akan menunjukkan yang sebenarnya.
Apa yang harus aku lakukan?
Kalau tidak melakukan tes DNA, dia akan terus berada di sekitarku sampai rasa ingin tahunya terpuaskan. Tapi kalau aku melakukannya, hasilnya… Hasilnya… Tidak akan sesuai harapanku. Dia akan tahu kenyataannya.
“Jangan diam saja.”
Dina menggeleng.
“Aku tidak akan menjawabnya sekarang.”
“Ok,” lelaki itu melepaskan rangkulannya. “Aku akan memberikanmu waktu. Sampai semuanya jelas, aku akan berada di Jakarta. Darah keluargaku mengalir di tubuhnya, jadi aku tidak akan melepaskannya begitu saja.”
Dina mengatupkan bibirnya menahan kekesalan. Ia melangkah ke sofa dan menempati tempat duduk jauh dari lelaki itu.
“Aku menginap di hotel ini….” lelaki itu melemparkan sebuah kartu yang merupakan kunci kamar hotelnya.
Dina menangkap kunci tersebut dengan sigap. Ia menyimpannya masuk ke dalam tas tanpa berkata kata.
“Aku pergi dulu,” ucapnya sambil bangkit berdiri dan menjinjing tas miliknya.
Lelaki itu hanya diam tanpa berkata kata dan membiarkan Dina melangkah pergi.
“Ingat, jangan terlalu lama… Bawa anak itu ke sini dan kita lakukan tes DNA. Aku akan memanggil orang untuk mengambil sampel nya.”
Dina tidak menjawabnya dan hanya melangkah pergi.
Sambil berjalan, otaknya berpikir keras mencari solusi agar bisa lepas dari masalah ini.
Drr.. Drr…
Ponselnya berbunyi. Dina melihat kalau si penelepon adalah orang suruhannya. Ia pun mengangkatnya.
“Ya.”
“Orang yang ibu cari, sudah saya temukan.”
Dina langsung menyeringai menunjukkan ekspresi kemenangan.
Akhirnya… Aku akan berhadapan dengannya.