WAKTU YANG AKAN MENJAWABNYA

1101 Kata
Banyu menundukkan kepalanya dan mengecup dahi mantan istrinya. Jelita menengadah dengan kaget. Semua terjadi begitu cepat. “Aku tahu, tidak seharusnya aku melakukannya lagi setelah malam itu di tempat kosmu, tapi…” Banyu menggenggam tangan Jelita dengan erat. “Aku sulit menahan diri.” Jelita menghargai ketulusan Banyu. Mantan suaminya ini sangat jarang berkata kata, tapi hari ini, begitu banyak kata yang terucap dari mulutnya. “Sepanjang aku mengenalmu, rasanya hari ini kamu lebih banyak bicara dari biasanya,” Jelita tersenyum. Banyu terlihat malu malu, “Banyak sekali yang ingin aku ungkapkan.” “Aku mengerti,” Jelita lagi lagi tersenyum. Suaminya itu terlihat menggemaskan. Biasanya gerak geriknya kaku, ekspresinya dingin dan jarang berkata kata. Tapi hari ini seperti berubah total. Banyu banyak bercerita dan mengungkapkan perasaannya dengan bebas. Bahkan ratusan kata keluar dari mulutnya. Selain itu, rambutnya sedikit berantakan. Tiba tiba saja Jelita tergelak secara otomatis. “Ke… Kenapa?” Banyu merasa heran. “Ra… Rambutmu,” Jelita menunjuk ke arah kepala lelaki gagah di hadapannya yang sedang kebingungan. “Oh kenapa?” Banyu mengusap rambutnya hingga semakin berantakan. Jelita lagi lagi tertawa, “Ma.. Malah tambah berantakan.” Seketika wajah Banyu berubah memerah. Ia merasa malu. Jelita menahan debar debar yang menjalar di sekujur tubuhnya. Pikirannya melayang ke setahun lalu saat mulai mengenal sosok mantan suaminya. Banyu membantunya melawan orang jahat. Saat dia menggunakan kekuatannya, wajahnya begitu garang dan terkesan tidak berperasaan, tapi… Setelah kejadian itu, wajahnya berubah malu malu bahkan bicara dengan gugup. Tidak ada lagi kesan menakutkan… Kamu seperti memiliki dua wajah. Satu wajah dingin dan garang. Satu wajah lainnya malu malu dan menggemaskan. Jelita lagi lagi menahan senyumnya memperhatikan Banyu yang terlihat mencoba merapikan rambutnya tapi malah semakin tidak beraturan. “A.. Apa tambah berantakan?” Banyu kebingungan. “Iya,” Jelita mengangguk. Akhirnya, ia memberanikan diri untuk menyentuh rambut mantan suaminya itu dan merapikannya. Banyu hanya diam sambil memperhatikan sikap Jelita. Setelah beberapa saat, ia membuka mulutnya, “Aku mau kamu kembali ke rumah.” Jelita menarik tangannya, “Sudah… Sudah rapi..” Ia menatap Banyu dengan perasaan tak menentu. “Aku berjanji akan memperbaiki diri. Apapun akan aku lakukan agar kamu bisa kembali ke sisiku,” gumam Banyu. Jelita merasakan matanya berkaca kaca. Ada rasa haru yang menyeruak. Ekspresi Banyu yang menunjukkan rasa bersalah dan menyesal berhasil menyentuh hatinya. Mantan suaminya itu meremas jari jemarinya dengan erat, “Aku tidak akan melepaskanmu lagi. “Beberapa bulan ini menjadi pelajaran berharga bagiku. Aku… Sudah menyepelekan perasaanku sendiri. Tak hanya itu, aku juga sudah mengabaikan perasaanmu. “Aku jahat dan sudah mendapatkan karma atas kesalahanku.” Banyu menunduk. Jelita menurunkan tubuhnya hingga bisa menatap wajah lelaki di hadapannya yang sedang menunduk. Ia pun tersenyum, “Jangan terus menyalahkan diri. Perpisahan kita jadi pelajaran berharga untukku juga.” Banyu menatapnya, “Kenapa kamu bisa sebaik ini? Kenapa? “Rasanya aku tidak layak mendapatkannya.” Jelita mengatupkan bibirnya menahan senyuman yang terus menerus muncul di wajahnya, “Apapun perbuatanmu, kamu tetap ayahnya Sena. Seumur hidup kita terikat sebagai pasangan orang tua.” Banyu tersenyum, “Sena menjadi penyelamatku.” “Berterima kasihlah pada putramu,” Jelita menggodanya. Tangan Banyu mengelus elus perut mantan istrinya itu, “Terima kasih Sena.” Jelita menarik nafas panjang, “Kita sudah terlalu lama di sini. Aku… Agak tidak enak hati. Sepertinya aku harus pergi sekarang.” Banyu menatapnya tanpa berkata kata. Ia tidak ingin membiarkan Jelita pergi, tapi situasinya memang tidak menguntungkan. Baik untuk Jelita dan juga dirinya. Kalau ada orang orang Adi Putra melihat, bisa mengancam kelancaran perpisahanku dengan Sadina nanti. Bahkan, bisa membahayakan Jelita dan putraku. Aku harus mengendalikan diriku. Banyu menarik nafas panjang. Berat rasanya. “Baiklah. Aku akan meminta Wira bersiap,” ucap Banyu sambil mengeluarkan ponselnya. Ia berdiri membelakangi Jelita untuk menghubungi karyawannya itu. Jelita memperhatikannya dari belakang. Tubuh Banyu yang tinggi besar dan tegap menjadi satu ciri khas sehingga membuatnya terlihat gagah. Banyak perempuan menganggapnya menarik, apalagi Banyu memiliki segalanya. Kenapa juga kamu masih bertahan menyukaiku? Padahal mudah saja bagimu mendapatkan penggantiku. “Wira bersiap di parkiran basemen,” suara Banyu menyadarkannya dari lamunan. “Oh euh, iya,” Jelita mengangguk. Banyu mengelus perut mantan istrinya dan mengecupnya, “Bye Sena. Besok ayah pergi dulu.” Ia kemudian menatap Jelita, “Ha.. Hati hati…” “Iya,” Jelita mengangguk. “Ka.. Kamu juga. Besok hati hati.” Banyu kembali memeluk Jelita dengan erat, “Kamu akan kembali kepadaku. Kita akan menjadi keluarga yang seutuhnya. Aku janji. “Tunggu waktunya…” Jelita merasa terenyuh. Bayangan Sena memiliki ayah dan keluarga lengkap tentu saja menjadi mimpi indah yang membuatnya membiarkan perbuatan Banyu. “A.. Aku pergi,” Jelita tidak menjawab ucapan yang keluar dari mulut mantan suaminya tersebut. Banyu mengangguk tanpa berkata kata. Ia membiarkan Jelita pergi. Matanya menunjukkan kesedihan yang tak terkira. Andai kamu tidak harus pulang. Andai aku bisa membawamu pergi. >>> Sadina Parwati mencoba mengabaikan telepon masuk dari nomor yang tidak disimpannya tersebut. Ia tidak ingin mengangkatnya. Tapi tiba tiba ada pesan masuk yang membuatnya terperangah. Kalau kamu tidak mengangkatnya, aku akan menghubungi papamu. Saat telepon kembali berdering, Dina pun mengangkatnya. “Halo. Berhenti menggangguku.” “Temui aku di Grand Hotel Metropolitan. Siang ini juga. Kita harus bicara empat mata.” Sadina terdiam. Kalau aku tidak mengikuti kemauannya, dan dia menghubungi papa…. Akan gawat… “Baiklah.” Dina memutuskan untuk mengikuti kemauannya agar tidak ada urusan dengan papanya. “Aku tunggu. Nomor kamar aku kirimkan lewat pesan.” Telepon pun tertutup. Dina bersandar ke kursi kerjanya sambil memejamkan mata. “Ini masalah. Ini masalah,” gumamnya. “Bagaimana ini?” Dina mengambil tasnya dan bergerak menuju Grand Hotel Metropolitan. Sepanjang jalan rasanya tak menentu. Bagaimana kalau dia menanyakan soal…? Ahh… Apa jawabanku? Tak terasa, ia pun tiba di hotel yang dimaksud. Dina parkir di basemen hotel dan melangkah keluar mobil dengan lesu. Ia memasuki lift yang mengarah ke lantai lobi sambil tertunduk. Tanpa disadarinya, ada sesosok lelaki menyadari kemunculannya di hotel tersebut, yaitu Ranu yang sedang menanti kedatangan Banyu. Ia mengirimkan pesan pada atasannya. Ranu : Saya melihat Ibu Dina di basemen. Baru saja masuk lift. Banyu : Apa yang dia lakukan di sini? Ranu : Saya minta orang mengawasinya. Bapak jangan dulu keluar. Banyu : Apa Jelita sudah pergi? Ranu : Sudah. Banyu : Ok. Ranu menghubungi salah satu dari close protection officer yang menjaga Banyu dan memintanya mengawasi Sadina Parwati. Tanda tanya besar menggelitiknya. Apa yang dilakukannya di sini? Ranu merasa penasaran. Apa Ibu Dina ada urusan pekerjaan kah? Atau pribadi? Tapi kalau pekerjaan, biasanya dia datang bersama sekretarisnya. Namun barusan, ia sendirian. Ranu mengerutkan keningnya. Apa dia menemui seseorang? Siapa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN