Banyu duduk sambil memutar mutar kursi di ruang kerjanya dengan perasaan gundah atau lebih tepatnya perasaan rindu. Apa yang ada di hatinya begitu menggebu gebu.
Besok aku harus ke Kalimantan. Sebelum pergi, aku ingin menemuinya. Tapi bagaimana caranya? Karena orang orang Adi Putra masih mengawasiku, kalau sampai ketahuan menemuinya maka Jelita bisa berada dalam bahaya.
Tidak hanya Jelita yang akan berada dalam posisi sulit, tapi juga Sena. Jangan sampai ada yang tahu kalau dia sedang hamil.
Adi Putra tidak bisa disepelekan. Dia bisa berbuat apa saja.
Ahh… Tapi aku rindu…
Banyu memejamkan matanya. Pikirannya melayang membayangkan ciuman malam itu.
Jelita tidak tahu perbuatanku. Rasanya tidak gentleman sekali karena melakukannya dengan diam diam.
Tiba tiba saja, muncul debar debar aneh di dadanya yang membuat Banyu membayangkan untuk kembali mencium mantan istrinya itu.
Namun kali ini dengan sepengetahuannya.
Tapi… Kedatanganku bisa membahayakan Jelita.
Ahh…
Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi sambil menatap langit langit ruangan. Banyu mengelus dadanya.
Hatiku..
Setelah berpikir beberapa saat, Banyu mengambil ponsel pribadinya dan memutuskan untuk menghubungi Jelita. Saat jarinya menekan nama ‘JELITA’ di kontak ponsel, mendadak saja jantungnya berdebar kencang. Ada keringat dingin di telapak tangannya.
Kenapa rasanya tegang sekali?
Jelita : “Halo.”
Banyu langsung gugup dan tak sanggup berkata kata. Ia merubah posisi duduknya menjadi tegak.
Jelita : “Halo…”
Banyu : “Ha.. Halo…”
Jelita : “I.. Iya.. A.. Ada apa?”
Banyu : “Aku… Hanya ingin mendengar suaramu.”
Jelita terdiam.
Banyu : “Jangan marah.”
Jelita : “Aku tidak marah. Tapi… Hati hati dalam berkata kata. Jangan sampai ada yang salah paham.”
Banyu : “Salah paham apa? Kenapa?”
Jelita : “Soal aku dan kamu… Mmm.. Kamu tidak sepantasnya bicara seperti itu kepadaku. Bagaimana kalau di dekatmu ada yang mendengar?”
Banyu : “Tidak ada yang mendengar. Jangan khawatirkan hal itu.
Banyu : “Apa yang aku katakan, itulah perasaanku. Bagaimana lagi?”
Jelita lagi lagi diam.
Banyu : “Mmm.. Aku akan mengajukan pembatalan pernikahan.”
Jelita : “Oh…”
Banyu : “Tapi… Sebelumnya, ada hal yang harus aku selesaikan terlebih dulu. Terkait Gendis.”
Jelita : “Gendis?”
Jelita : “Oh.. Anakmu?”
Banyu terdiam beberapa saat sambil memikirkan jawabannya.
Banyu : “Dia anakku, tapi juga bukan…”
Jelita : “Maksudnya? Kenapa bisa?”
Banyu : “Aku akan menjawabnya, tapi tidak di telepon.”
Banyu : “Mmm.. Selain itu, banyak hal yang ingin aku ceritakan. Apa boleh aku menemuimu?”
Jelita : “Sebaiknya jangan. Tidak seharusnya kita bertemu.”
Banyu : “Aku…”
Jelita : “Pertemuan kita bisa jadi hal salah.”
Banyu : “Aku tahu… Tapi hubunganku dan dia tidak seperti kita. Pernikahanku sekarang ini bukanlah sesuatu yang layak dipertahankan. Perempuan itu juga tahu..”
Banyu : “Biarkan aku menemuimu…. Dan juga Sena. Ya?”
Jelita tidak menjawabnya.
Banyu : “Biarkan aku menemuimu sebentar saja. Mmm.. Besok aku harus pergi ke Kalimantan.”
Banyu : “Kalau boleh, aku akan meminta Wira mengantarmu.”
Jelita : “Mmm… Kamu akan pergi ke Kalimantan? Besok?”
Banyu : “Iya.”
Banyu : “Bagaimana?”
Jelita : “Mmm.. Baiklah. Dimana?”
Banyu : “Aku sebaiknya tidak mengunjungi tempat kosmu siang hari begini. Situasinya tidak memungkinkan.”
Banyu : “Aku akan menghubungi Wira dan memintanya mengantarkanmu ke tempatku.”
Banyu : “See you.”
Jelita : “Iya.”
Banyu menutup teleponnya sambil tersenyum. Ia berbunga bunga.
“Ehm, kontrol dirimu Banyu,” gumamnya berbicara pada dirinya sendiri.
Pertama tama Banyu meminta Ranu melakukan check in kamar hotel di tengah kota, sehingga nanti ia tinggal masuk saja. Ranu kemudian akan menunggu di parkiran untuk menitipkan kunci kamar hotel pada Wira agar Jelita bisa masuk ke kamar hotel tempat Banyu berada.
Semua mereka lakukan dengan hati hati agar siapapun yang mengawasinya tidak curiga. Ranu bahkan dengan sengaja mengatur pertemuan dengan staf kantor di hotel tersebut sehingga kedatangan Banyu tidak menjadi tanda tanya.
Banyu lalu menghubungi Wira dan memintanya mengantarkan Jelita ke hotel tersebut.
Selama menunggu, ia bergerak mondar mandir di dalam kamar hotel saking gugupnya. Meski Jelita pernah menjadi istrinya dan hubungan mereka sangatlah dekat, tapi setelah berbulan bulan terpisah, pertemuan ini seperti mengulang awal hubungan.
Jantungnya berdebar dengan kencang hingga membuatnya tak sanggup mengendalikan diri. Itu sebabnya Banyu berjalan bulak balik tanpa henti. Sampai akhirnya, terdengar bunyi pintu terbuka.
Banyu menoleh dan melihat Jelita melangkah masuk.
Secara otomatis, senyum lebar muncul di wajahnya. Debar debar di dadanya seperti menjadi jadi dan membuncah. Ia pun setengah berlari mendekat menyambut mantan istrinya dan memeluknya.
“Ja… Jangan begini,” Jelita merasakan d**a kirinya berdegup kencang.
“Aku mau begini,” Banyu tidak memerdulikan ucapannya.
“Oh,” Jelita meremas lengan lelaki yang dicintainya itu. Ia menengadahkan kepalanya menatap wajah tampan mantan suaminya. “Kenapa tidak ada siapapun di sini? Kita hanya berdua?”
Banyu tersenyum, “Aku tidak mau ada orang lain. Hanya aku, kamu dan Sena.”
Jelita mengatupkan bibirnya menahan rasa senang.
“Apa anakku rewel hari ini?” tanya Banyu sambil mengelus perut Jelita. “Apa dia merepotkanmu?”
“Tidak,” Jelita menggeleng. “Sena selalu baik dan pengertian.”
Banyu menatap perempuan berwajah ayu yang begitu cantik meski tanpa make up berlebih. Ia membelai pipinya dengan lembut.
Ada rasa rindu yang begitu dalam.
Banyu ingin mencium bibir merahnya yang merekah. Ia menyapukan ibu jarinya di bibir tersebut.
“Kamu… Tidak berubah,” gumamnya. “Selalu cantik.”
“A… Apa iya?” Jelita merasakan kupu kupu beterbangan di perutnya. Ia menatapnya dalam diam. Matanya yang kecil dan membulat bersinar sinar dengan indah.
Ah, ini sebabnya aku lebih baik menghindar dan tidak ketemu Banyu sampai statusnya bukan suami orang. Perasaanku meluap luap dan sulit dikendalikan.
Jelita mengepalkan tangannya menahan pergulatan di dalam dirinya.
“Iya, kamu selalu cantik di mataku,” Banyu menatapnya penuh cinta. Sekali lagi, ia memeluknya selama beberapa saat.
Jelita hanya diam membiarkannya.
“Ada yang ingin aku ceritakan,” gumam Banyu. “Soal yang tadi aku bicarakan di telepon.”
Secara perlahan, ia melepaskan pelukannya.
“Oh,” Jelita menanti cerita mantan suaminya dengan berdebar.
Banyu menarik tangan Jelita agar duduk di sofa.
“Mmm… Ini soal Gendis,” ucapnya sambil menarik nafas panjang. Sejujurnya, Banyu merasa tidak enak untuk membahas persoalan itu, tapi… Jelita berhak untuk tahu.
Ia melanjutkan ucapannya, “Kamu harus tahu… Kalau adanya Gendis membuatku mengambil keputusan berat terkait perceraian kita.”
Jelita hanya diam sambil menunduk.
Sena juga membutuhkanmu, tidak hanya Gendis.
Ah, kenapa aku seperti cemburu pada anak kecil tak berdosa?
“Tapi ternyata, itu semua salah… Dia bukan anakku. Tidak ada darah Adhiarja mengalir di tubuhnya,” Banyu mengangkat dagu Jelita agar menatap matanya.
“Jadi, aku akan mengajukan pembatalan pernikahan. Hanya saja…
“Anak kecil tak berdosa itu harus mendapatkan kasih sayang yang selayaknya. Jadi, aku sedang mencari ayah kandungnya dan memastikan saat pembatalan pernikahan terjadi, ada yang akan merawat dan mengurus Gendis.”
Jelita mengedipkan mata berulang kali karena tidak percaya pendengarannya sendiri.
“Dia… Bukan anakmu? La.. Lalu bagaimana awalnya? Aku tidak mengerti…” ucapnya bingung.
Banyu membelai tangan Jelita dengan lembut, “Maafkan aku harus menceritakan ini semua.”
Jelita hanya mengangguk.
Banyu kembali bercerita, “Saat perempuan itu mengaku hamil, aku meminta dilakukan tes DNA, yang mana hasilnya terdapat probabilitas antara aku dan anak itu. Tapi minggu lalu, aku meminta dilakukan tes ulang dan ternyata hasilnya berbeda dan berlawanan.
“Itu sebabnya, tidak ada lagi hubungan apapun antara aku dengan dia. Pernikahan ini berakhir sebelum dimulai. Hanya Gendis yang menjadi pengikat dan ternyata…”
“Oh…” Jelita masih berusaha mencerna segalanya.
Banyu menarik nafas panjang, “Kalau boleh memilih, aku ingin segera mengakhiri pernikahan ini dan kembali kepadamu. Itupun kalau kamu mau kembali menerimaku…
“Tapi, nasib Gendis mengganggu pikiranku. Apa… Apa kamu bisa memahaminya?”
Jelita mengangguk. Ia juga tidak tega memikirkan nasib bayi mungil itu.
Namun ada tanya yang mengganggunya, hingga akhirnya Jelita membuka mulutnya, “Mmm… Tapi kenapa minggu lalu kamu terpikirkan untuk melakukan tes DNA ulang?”
Banyu menarik nafas panjang, “Kehamilanmu membuatku meyakini kalau Gendis bukan putriku. Hanya saja, aku harus memiliki bukti valid sehingga tes DNA ulang diperlukan untuk memastikan segalanya.”
“Kehamilanku?” Jelita mengerutkan keningnya. “A… Apa hubungannya?”
“Hhh…” Banyu terdiam.
Ia kemudian menatap Jelita dengan serius, “Sejujurnya, ada satu rahasia keluargaku yang tidak pernah aku ceritakan kepada siapapun. Rahasia yang menjadi kelemahanku…”
“A… Apa?” Jelita bertanya tanya.
Banyu menggelengkan kepalanya, “Aku akan cerita setelah memastikan segalanya. Minggu lalu, aku sudah berkonsultasi dengan dokter keluarga dan… Hasilnya… Belum keluar…
“Ohh..” Jelita termenung.
“Setelah menemukan ayah kandung Gendis dan mengurus perpisahanku, kita akan kembali bersama. Berikan aku waktu satu bulan,” Banyu bicara tegas. “Apa kamu bersedia menerimaku kembali?”
Jelita menatapnya dengan gugup tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun.
Dalam kesunyian, jari jemari Banyu bergerak naik mengusap usap pipinya dan juga bibirnya.
Tatapan mereka beradu.
Suasana sunyi dan senyap, tapi… Binar di mata mereka menunjukkan kalau ada cinta yang tak pernah hilang.