Tok, tok, tok… Jelita tersenyum ketika mendengar bunyi ketukan di pintu. Ia tahu kalau sosok di balik pintu adalah mantan suaminya. Jelita bergerak membukakan pintunya. Sesuai dugaan, Banyu berdiri di hadapannya. Ia terpesona menatap mantan suaminya yang tersenyum kepadanya. Senyum langka yang makin sering aku lihat akhir akhir ini. Banyu kemudian memeluknya dengan erat, “Sesuai janjiku. Aku makan siang di sini.” “Iya,” Jelita membalas pelukannya dengan erat. Dalam suasana hati yang kurang enak akibat pembicaraannya dengan dokter Pratama Wisesa, pelukan Banyu terasa menenangkan. Ia bersandar di dadanya mencari kedamaian. “Kamu… Kenapa?” Banyu merasakan ada yang berbeda di diri mantan istrinya itu. “Tidak,” Jelita tidak ingin menceritakan soal percakapannya dengan Pram. Banyu m

