Banyu membiarkan kedua tangannya merangkul pinggang Jelita agar mantan istrinya itu mendekat ke arahnya. Kali ini, Jelita tidak menahan dirinya. Ia mengabaikan perasaan tidak enaknya dan mulai memikirkan isi hatinya sendiri. Aku menginginkannya, aku mau kamu. Tidak bisa dipungkiri perasaannya begitu menggebu gebu. Dadanya berdebar kencang dan tubuhnya memanas. Aku merindukannya. Ciumanmu, pelukanmu, sentuhanmu… Bibir mereka melekat dengan erat. Kepala keduanya miring ke kiri dan kanan secara bergantian. Jelita menyukai cara Banyu menciumnya. Lembut dan perlahan. Ia terhanyut. Pelan pelan, Banyu mengarahkan agar Jelita bangkit dari kursinya. Keduanya berdiri sambil tak lepas melekatkan bibirnya. Ciuman penuh rindu yang sudah lama tidak tersalurkan. Banyu membiarkan dirinya me

