Iwa duduk di atas sofa, memeluk lututnya dan menyanggakan dagu di atas tekukkan lutut. Mata Iwa menatap oma Aning kosong. Oma Aning sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa, karena kesadaran oma Aning semakin membaik. Mahesa belum juga pulang sejak pagi tadi Iwa hubungi, dan ternyata ia meeting bersama dengan Syafa. Iwa masih teringat dengan Mahesa yang berjalan gagah dengan menghimpit Syafa yang terlihat begitu anggun dan berkelas. Iwa tidak bisa membayangka, apa yang akan orang katakan, terutama rekan bisnis Mahesa, dan staf perushaan Mahesa dan Syafa menanggapi pernikahan Iwa dan Mahesa nanti. Iwa akan menjalani kehidupan pernikahan penuh dengan kesan negatif, semua akan menyalahkan Iwa. “I-Iwa.” Terdengar suara ringkih memanggil nama Iwa. Iwa mengangkat kepalanya, lalu segera beran