Senja turun perlahan di atas langit Jakarta, mewarnai cakrawala dengan semburat jingga yang hangat. Di dalam mansion utama keluarga Moretti—sebuah bangunan megah bernuansa arsitektur Eropa modern—angin sore masuk melalui jendela besar ruang keluarga, membawa aroma teh melati yang baru saja diseduh. Amara sedang berdiri di balkon dalam rumah, menatap halaman luar. Hari ini ia sedang memikirkan banyak hal, tetapi pikirannya berhenti ketika ia mendengar suara langkah kaki yang sangat dikenalnya. Langkah itu berat. Langkah seorang pria yang tidak pernah gentar pada apa pun. Amara berbalik. Dan di sana berdiri pria yang telah menjadi pendamping hidupnya selama lebih dari tiga dekade. Giovanno Moretti. Ia tidak datang dengan hiruk pikuk penyambutan, tanpa pengawal berbaris rapi, tanpa pengu

