Tangan Evana terasa dingin. Bahkan ketika ia mencoba menggenggam jemarinya sendiri, ketegangan itu tidak berkurang sedikit pun. Mobil yang dikendarai Elvano berhenti perlahan di depan sebuah mansion besar, dengan arsitektur yang mencerminkan kemewahan sekaligus kekuasaan. Pilar-pilar tinggi berdiri kokoh, jendela-jendela besar memantulkan cahaya temaram sore yang mulai turun. Rumah keluarga Moretti. Rumah tempat ia akan bertemu dengan ayah Elvano untuk pertama kalinya. Evana menelan ludah. “El… aku deg-degan. Aku benar benar deg-degan.” Suaranya hampir bergetar. Elvano menoleh dengan tatapan yang lembut namun tegas. “Ev,” panggilnya pelan, berbeda dari biasanya. “Guarda me.” (Lihat aku.) Evana mengangkat wajah, dan mata mereka bertemu. “Tenanglah,” ucapnya, menggenggam tangan Evana d

