Hari-hari Evana benar-benar kehilangan warna. Sejak sore itu, ketika ijab kabul mengikatnya dengan Elvano, seakan-akan semua keceriaan yang pernah ia miliki hilang ditelan gelap. Tidak ada malam pertama, tidak ada kebahagiaan seperti yang dibayangkan orang-orang ketika baru menikah. Yang ada hanyalah rasa hampa, resah, dan ketakutan yang kian menumpuk. Setiap pagi, ia masih bangun di kamar kecilnya. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Elvano, selain sebuah black card yang ditinggalkan pria itu. Benda kecil itu terasa berat, bukan karena fisiknya, melainkan karena beban yang menyertainya. Evana bahkan tidak berani menggunakannya. Hanya disimpan di dalam dompet, seperti benda kutukan yang setiap kali ia lihat selalu mengingatkan bahwa dirinya kini terikat pada seorang lelaki misterius—lelaki ya

