Suasana kantor masih belum benar-benar tenang setelah perkenalan singkat Mister Demian Moretti pagi tadi. Bisik-bisik terus terdengar di setiap sudut, seolah semua orang belum puas menggosipkan hal mengejutkan yang baru saja mereka saksikan. Evana menunduk di meja kerjanya, mencoba memusatkan perhatian pada layar komputer, meski huruf-huruf yang terpampang di monitor terasa kabur. Sinta duduk di sampingnya, jelas sekali tidak bisa menahan rasa ingin tahu. “Va,” suara Sinta terdengar setengah berbisik, setengah menjerit menahan antusias. “Tidak salah, kan? Yang tadi itu beneran Elvano? El yang sering kamu goda itu ternyata CEO Moretti Group! Astaga, Va!” Evana menggigit bibirnya, jari-jarinya berhenti mengetik. “Bayangin, Va. Kamu selama ini dengan entengnya godain dia, panggil-panggil

