Mansion besar yang lebih banyak dihuni oleh para pelayan. Di setiap pagi yang Evana dapati juga hanya pelayan karena Elvano yang Evana juluki seperti jelangkung sebab pria itu selalu datang dan pergi sesuka hati. Evana turun dari kamar sudah rapi dan wangi. Ia mengenakan blouse sederhana berwarna pastel dan celana bahan lembut. Hari ini ia memutuskan untuk masuk kerja, mencoba melanjutkan rutinitas yang selama ini ia jalani setelah seharian kemarin memanjakan diri. Langkahnya terhenti ketika melihat meja makan kosong. Tidak ada jejak Elvano. Bahkan gelas kopinya pun tidak ada. Seperti ia tidak pernah berada di sana sejak pagi. Evana menoleh ke arah Cecilia yang baru saja muncul dari dapur membawa nampan berisi teh hangat. “Cecil, ke mana Tuan?” tanya Evana pelan namun dengan nada yang

