Di ruang kerjanya yang luas, Elvano duduk dengan wajah serius. Berkas-berkas penting bertumpuk di meja marmer hitam, layar laptop menyala dengan grafik-grafik rumit. Namun, fokusnya pecah ketika ia membuka map terakhir yang baru saja diambil Rafael dari tumpukan. Keningnya berkerut. “Mana berkas perjanjian ekspor Global Maritim?” Rafael yang berdiri di dekat pintu ikut mendekat. “Saya kira sudah dibawa semua, Tuan.” Elvano menutup map dengan gerakan kasar. “Tidak ada di sini. Itu dokumen krusial untuk rapat sore nanti. Jika tidak ada, seluruh proyek bisa kacau.” Rafael langsung memeriksa lagi tumpukan map di sisi meja. Namun setelah dicek satu per satu, tetap tidak ada. “Mungkin tertinggal di Global Maritim, Tuan.” Elvano menahan desah frustrasi. Tangannya mengepal, lalu ia menatap ta

