Ruangan kerja Elvano Demian terasa begitu tenang, hanya suara detak jam dinding dan dengung lembut pendingin udara yang terdengar. Di balik kaca besar, pemandangan kota tampak megah, seolah menegaskan kekuasaan pria yang kini tengah sibuk menatap layar laptop di hadapannya. Evana duduk di sofa abu lembut yang berada di sisi ruangan. Rasa gugup dan kagum bercampur menjadi satu. Ia tidak menyangka akan menginjakkan kaki di tempat ini — kantor yang sering disebut-sebut orang sebagai “jantung Moretti Group”. “Kalau mau minum, ambil saja di kulkas langsung.” Sederhana, tapi cukup untuk membuat jantung Evana berdebar. “Baik,” ucapnya pelan, lalu ia berdiri dan berjalan menuju kulkas kecil yang terletak di pojok ruangan. Ia memilih satu kaleng minuman dingin, membuka tutupnya, dan kembali dud

