Hujan baru saja berhenti mengguyur Jakarta malam itu. Langit masih pekat, menyisakan aroma aspal basah yang bercampur dengan dingin dan debu. Di sudut utara kota, berdiri sebuah gedung tua tanpa papan nama. Dari luar tampak seperti gudang logistik biasa, tetapi siapa pun yang cukup lama hidup di jalanan Jakarta tahu—tempat itu adalah markas besar Moretti Syndicate, jaringan kriminal bawah tanah yang diam-diam menguasai setengah bisnis gelap di Asia Tenggara. Sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan bangunan itu. Dua pria berbadan besar segera keluar, membuka pintu belakang, dan seorang pria berjas hitam turun dengan langkah mantap. Tatapan matanya tajam, rahangnya tegas, dan aura otoritasnya membuat udara di sekitar terasa menegang. Elvano Demian Moretti. CEO muda Moretti Group di sian

