London kembali menyambut Elvano dengan udara khasnya—dingin, basah, dan beraroma kopi dari kedai-kedai yang berjajar di sepanjang jalan. Mobil hitam dengan kaca gelap itu memasuki halaman luas mansion milik Giovano Moretti, ayahnya. Bangunan tua bergaya Victoria itu berdiri megah, memancarkan aura aristokrat yang dipadukan dengan kejayaan bisnis keluarga Moretti yang tak pernah redup. Gerimis tipis membasahi halaman depan. Lampu-lampu pijar berlapis emas memantulkan sinar hangat, kontras dengan hawa dingin yang menusuk tulang. Pagi itu, kabut tipis masih menggantung, menyelubungi pepohonan rapi yang berbaris di sisi jalan masuk. Begitu turun dari mobil, Elvano mendongak menatap langit abu-abu. “Back to London,” gumamnya pelan, seolah menegaskan pada dirinya sendiri bahwa kini ia sudah

