Hari itu seharusnya menjadi hari yang membanggakan bagi Bu Ratna. Sejak siang, rumah sudah riuh oleh aktivitas persiapan. Kursi-kursi tambahan didatangkan, ruang tamu ditata ulang, bahkan meja panjang ditutupi taplak baru. Aroma masakan memenuhi dapur—opor ayam, sambal goreng kentang, sate, kue basah—semuanya dipersiapkan seolah menyambut tamu agung. Lepas Maghrib, Bu Ratna berdiri di tengah ruang tamu, mengenakan kebaya hijau toska. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipoles tipis oleh make-up salon langganan. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya, meski jelas di balik senyum itu ada kecemasan tersendiri. “Va, cepat keluar! Jangan berlama-lama di kamar!” serunya dari depan pintu kamar putrinya. Evana yang sejak tadi duduk di ranjang dengan gaun biru muda, menarik napas berat. Tubuhnya

