Senin pagi biasanya adalah hari paling sibuk di kantor. Lobi dipenuhi karyawan yang baru masuk, suara langkah kaki bersahutan di lantai marmer, dan bunyi lift naik-turun seakan tanpa henti. Orang-orang tampak bersemangat dengan setelan formal, membawa kopi di tangan, seolah siap menghadapi seminggu penuh pekerjaan. Namun, ada satu sosok yang tampak kontras dengan suasana itu. Evana. Gadis itu berjalan gontai melewati pintu kaca gedung, rambutnya yang biasanya tergerai rapi kini diikat asal-asalan. Matanya sembab, wajahnya pucat tanpa riasan. Bahkan pakaiannya pun tak seceria biasanya, hanya blouse krem polos yang sedikit kusut, dipadukan rok hitam yang tampak seperti dikenakan tergesa-gesa. Sinta, yang baru saja tiba lebih dulu dan sedang duduk di dekat meja resepsionis, langsung menang

