Rumah itu kembali sunyi setelah mobil hitam yang membawa Amara dan Elvano meluncur pergi meninggalkan halaman. Aroma makanan katering masih tercium samar dari ruang makan, sementara beberapa wadah hidangan sudah mulai ditutup oleh Evana dengan tangan gemetar. Perasaan yang bercampur aduk membuatnya nyaris tak bisa berdiri tegak. Namun kesunyian itu tak berlangsung lama. “Evana!” suara tajam Ratna menggema di ruang tamu. Evana tersentak, menoleh cepat. Ia tahu nada itu. Nada yang penuh kecurigaan sekaligus kemarahan. Perlahan ia melangkah ke ruang tamu, menundukkan kepala, seperti anak kecil yang siap dimarahi. “Apa maksudmu, hah? Kau bilang Elvano itu hanya karyawan biasa. Lalu bagaimana mungkin dia bisa membawa hantaran sebanyak itu? Perhiasan, kain sutra, kue impor. Kau kira ibu ini

