Keesokan harinya, Amara bangun lebih pagi dari biasanya. Wajahnya tampak lebih segar, seakan semangat baru menyelimuti seluruh jiwanya. Ia memanggil Lucia untuk memilih gaun terbaik. Lemari besar di kamarnya dibuka, menampilkan deretan busana elegan yang sudah bertahun-tahun tidak tersentuh. “Gaun biru tua ini, Madam? Atau mungkin yang krem dengan renda halus?” tanya Lucia sambil mengeluarkan beberapa pilihan. Amara memandanginya lama, lalu menggeleng. “Tidak. Aku ingin sesuatu yang sederhana tapi anggun. Aku tidak ingin terlihat berlebihan di depan keluarga Evana. Aku ingin mereka merasa nyaman, bukan terintimidasi oleh penampilanku.” Akhirnya, pilihan jatuh pada gaun hijau zamrud sederhana dengan potongan klasik. Lucia membantu mempersiapkan semuanya, dari perhiasan ringan hingga sepa

