Kantor pagi ini terasa berbeda bagi Evana. Langit di luar jendela masih cerah, namun rasa mendung ia simpan di dadanya—bukan karena cuaca, melainkan karena menunggu sosok yang sejak malam sebelumnya terus memenuhi kepalanya. Pagi berlalu dengan rutinitas yang kusam: rapat singkat, email menumpuk, laporan yang harus segera ditandatangani. Namun setiap kali ia menoleh ke arah koridor, Evana berharap melihat sosok itu muncul. Siapa lagi jika bukan Elvano yang ia tunggu-tunggu. Sampai jam istirahat berakhir, pria itu belum juga muncul. Rasanya detik-detik berjalan panjang sekali. Setelah makan siang, Evana kembali ke meja dengan perasaan gundah. Ia berulang kali menatap layar komputer tanpa benar-benar membaca apa yang terpampang. Lalu, seakan mendengar doa kecilnya, sosok itu akhirnya hadi

