Jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas ketika mobil mewah yang ditumpangi Evana berhenti di depan rumahnya. Perempuan itu masih belum sepenuhnya tenang setelah semua hal yang terjadi malam ini—mansion megah, pertemuan dengan ibunda Elvano, hingga Elvano yang tiba-tiba menghilang karena urusan mendesak. Marco, sopir pribadi Elvano, keluar lebih dulu lalu membukakan pintu untuknya. “Silakan, Nona.” Evana mengangguk canggung, mengambil tasnya, lalu turun. Mobil itu tidak langsung pergi. Marco menunggu sejenak memastikan nona itu masuk dengan aman. Di teras rumah, Pak Hadi sudah berdiri dengan tangan terlipat di d**a. Wajahnya keras, penuh tanya. Begitu melihat putrinya turun dari mobil mewah, alisnya berkerut. “Evana…” suaranya dalam, menahan marah sekaligus bingung. “Dari mana saja ka

