Makan malam berakhir. Elvano dan Evana bersiap pulang. Namun, baru beberapa langkah keduanya meninggalkan pintu utama mansion keluarga Moretti, suara ponsel Elvano berdering. Nada dering itu berbeda, tajam, seolah hanya berbunyi jika sesuatu yang benar-benar penting terjadi. Elvano mengernyit, lalu merogoh ponselnya. Begitu melihat nama yang muncul, wajahnya berubah serius. Ia melirik sekilas pada Evana, lalu mengangkat telepon. Suara berat dan cepat terdengar dari seberang. Evana tak bisa mendengar jelas, tapi dari ekspresi Elvano, ia tahu ini bukan urusan biasa. Rahang pria itu mengeras, matanya menajam, langkahnya beranjak menjauh agar tak terdengar jelas oleh Evana. “Yes. I’ll be there,” hanya itu yang keluar sebelum ia menutup telepon. Evana sempat membuka mulut, ingin bertanya. N

