Jalanan malam itu terasa panjang bagi Evana. Langkah kakinya gontai, tas kerja tergantung di bahu dengan beban seolah lebih berat dari biasanya. Bukan karena isi tas, melainkan karena isi hatinya. Hari itu benar-benar menyiksanya, mulai dari pagi hingga sore menjelang malam. Di kantor, rekan-rekan kerja sudah cukup membuatnya ingin menangis di toilet. Cemoohan-cemoohan yang tak pernah absen ia dengar: Dan itu semua karena tingkah gilanya mencari Elvano. Entah kenapa sekarang dia jadi baper padahal kemarin-kemarin biasa-biasa saja ketika dia harus ditertawakan pada saat mengejar Elvano. Evana menunduk sepanjang jalan pulang, berharap angin malam bisa sedikit meredakan rasa perih di dadanya. Evana sendiri juga lagi malas pulang kerumah, bukannya mendapatkan pelukan penghiburan, ia justru s

