BAB 23

1308 Kata

Amara terbangun dengan perasaan hampa. Matanya menatap kosong ke arah sisi ranjang yang dingin. Seprei putih masih rapi, selimut tidak terlipat, tanda jelas bahwa suaminya, Giovanno, sudah pergi sejak dini hari. Selalu begitu dan Amara sudah cukup paham tentang karakter suaminya itu. Ia menghela napas berat. Rasa sepi kembali menusuk dadanya. Perlahan Amara bangkit, berbalut gaun tidur satin warna biru pucat, lalu melangkah keluar kamar. Sandal rumah yang dikenakannya berdecit pelan di lantai marmer yang mengkilap, menambah kesunyian yang sudah terasa menusuk. Di lorong panjang yang dipenuhi lukisan tua, ia berpapasan dengan Lucia, salah satu pelayan setianya. “Lucia,” panggil Amara dengan suara serak. Lucia segera menunduk hormat. “Selamat pagi, Nyonya.” “Giovanno... kau tahu di mana

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN