Lavender Marriage

1211 Kata
Suasana ruang keluarga yang semula hangat mendadak berubah tegang. William berdiri dari sofa dengan wajah penuh keterkejutan saat melihat Freya masuk sambil menggandeng tangan Gavin. “Freya?” suaranya meninggi. “Kenapa kamu datang ke sini sama Om Gavin?” Freya langsung menegang. Sementara Gavin tetap tenang di sampingnya, meski tatapannya mulai berubah dingin. Seorang wanita elegan yang duduk di sofa utama mengernyit bingung melihat reaksi William. “Kalian saling kenal?” tanyanya heran. Freya langsung menyadari wanita itu pasti ibu William. “Kenal, Mom,” jawab William cepat sambil terus menatap Freya tajam. “Dia pacar aku.” Ruangan langsung hening. Freya bisa merasakan genggaman tangan Gavin sedikit mengencang. Gavin menoleh tipis ke arah Freya, lalu berbisik rendah agar hanya mereka yang mendengar. “Kamu tidak bilang kalau pacaran sama Wiliam.” Freya langsung membalas pelan tanpa mengubah ekspresi. “Anda juga tidak pernah bertanya.” William melangkah mendekat, emosinya mulai terlihat jelas. “Freya, jelaskan sekarang,” katanya tajam. “Kenapa kamu datang sama om aku?” Freya menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata tegas, “Kita sudah putus, William.” William langsung tertawa tidak percaya. “Putus?” ulangnya sinis. “Terus sekarang kamu datang ke rumah keluarga aku sama om aku?” Sebelum Freya sempat menjawab, Gavin berbicara lebih dulu dengan suara datar namun tegas. “Karena sekarang dia calon istri saya.” Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Mata William langsung membelalak lebar. “Apa?” suaranya meninggi. “Calon istri?” Ia menatap Freya dan Gavin bergantian dengan emosi yang mulai meledak. “Jadi selama ini kalian selingkuh di belakang aku?” tuduhnya kasar. “Freya, ternyata kamu main belakang sama paman aku sendiri!” Freya langsung mengepalkan tangannya. “Kami tidak berselingkuh,” jawab Gavin dingin sebelum Freya sempat bicara. William menatap Gavin penuh amarah. “Tidak berselingkuh?” ia tertawa sinis. “Aku pacaran sama Freya dua tahun, Om. Dasar jalang sok suci kamu,Fre.” Tatapannya tajam menusuk Gavin. “Jadi kalian mulai kapan?” Suasana mendadak menjadi sangat tegang. Freya bisa merasakan seluruh pasang mata keluarga kini tertuju pada mereka. Sementara Gavin tetap berdiri tenang di sampingnya namun aura dingin pria itu perlahan mulai terasa menekan seluruh ruangan.William masih menatap Freya dengan emosi yang semakin tidak terkendali. “Kita baru putus tadi pagi!” bentaknya tidak percaya. “Dan sekarang kamu sudah jadi calon istri paman aku?” Freya langsung mengeraskan rahangnya. “Hubungan kita sudah selesai, William,” jawabnya tegas. “Jangan bertindak seolah kamu korban.” William tertawa sinis. “Korban?” ulangnya tajam. “Kamu datang ke rumah keluarga aku sama laki-laki lain, terus bilang aku bukan korban?” Gavin yang sejak tadi diam akhirnya melangkah sedikit ke depan. “Jaga nada bicaramu,” ucapnya dingin. William langsung menoleh tajam. “Kenapa? Om takut rahasianya ketahuan?” Tatapan Gavin tidak berubah sedikit pun. “Saya lebih tahu seperti apa kehidupanmu dibanding siapa pun di ruangan ini,” katanya tenang namun menusuk. “Jadi jangan bertindak seolah kamu pria setia.” William langsung membeku sesaat. “Kamu pikir saya tidak tahu kalau kamu juga punya banyak perempuan selain Freya?” lanjut Gavin dingin. “Atau saya perlu menyebut nama-namanya di depan keluarga sekarang?” Wajah William langsung berubah. “Diam, Gavin!” Suara seorang wanita terdengar keras memotong suasana. Saras berdiri dari duduknya dengan wajah penuh amarah. “Walaupun kamu adik saya, kamu tidak berhak membentak anak saya di rumah ini!” bentaknya tajam. “Jangan lupa posisi kamu!” Freya langsung menegang mendengar nada bicara wanita itu. Namun Gavin justru tersenyum tipis.senyum dingin yang membuat suasana semakin tidak nyaman. “Posisi saya?” ulang Gavin pelan. Tatapannya beralih lurus ke Saras. “Yang harus ingat posisi itu seharusnya Anda.” Saras langsung membelalak. “Apa maksudmu?” Gavin melangkah pelan mendekat. “Anda baru saja menyebut saya anak gundik?” tanyanya tenang, namun jelas penuh tekanan. Ruangan mendadak sunyi. “Kalau begitu jangan lupa satu hal,” lanjut Gavin tajam. “Saya tetap anak kandung keluarga Alister.” Tatapannya turun ke William sekilas sebelum kembali ke Saras. “Sementara kalian…” suaranya semakin dingin, “hanyalah keluarga angkat di rumah ini.” “Gavin!” bentak Saras marah. “Berani sekali kamu bicara seperti itu pada saya!” Namun Gavin sama sekali tidak terlihat gentar. “Saya hanya mengatakan fakta,” balasnya datar. William langsung mengepalkan tangannya kuat-kuat. Sementara Freya berdiri diam di samping Gavin, jantungnya berdetak keras melihat bagaimana ketegangan keluarga itu perlahan mulai terbuka di depan matanya. Suasana ruang keluarga yang tegang mendadak terpotong saat suara langkah pelan terdengar dari arah tangga. Seorang wanita paruh baya dengan wajah pucat namun elegan berjalan turun sambil memegangi pegangan tangga. “Ada apa ini?” tanyanya bingung. “Kenapa ribut sekali?” Freya langsung menoleh. Wanita itu terlihat lemah, tetapi aura anggunnya masih sangat terasa. Saras mendecakkan lidah pelan. “Nah, datang juga akhirnya,” sindirnya dingin. Namun wanita itu tidak mempedulikannya. Tatapannya langsung tertuju pada Gavin. “Gavin…” wajahnya langsung melembut. “Kamu sudah datang dari tadi?” Nada suaranya penuh rasa bersalah. “Maaf ya, Mama tadi habis minum obat jadi ketiduran di kamar.” Ekspresi dingin Gavin langsung sedikit melunak. “Aku juga baru sampai, Ma,” jawabnya lebih lembut dibanding sebelumnya. Lalu Gavin menoleh ke arah Freya. “Aku mau kenalin seseorang.” Tangannya perlahan menggenggam tangan Freya. “Ini calon istri Gavin,” katanya tenang. “Namanya Freya.” Freya langsung gugup. Ia buru-buru membungkuk sopan. “Halo, Tante…” Mata wanita itu langsung berbinar hangat. “Ya ampun…” ujarnya pelan sambil tersenyum lembut. “Cantik sekali.” Freya langsung salah tingkah. “Terima kasih, Tante…” “Duduk, Nak,” ujar wanita itu ramah. “Jangan berdiri terus.” Freya mengangguk pelan lalu duduk di samping Gavin, meski masih bisa merasakan tatapan tajam William sejak tadi. Dan benar saja.beberapa detik kemudian William tertawa kecil sinis. “Aku nggak yakin dia benar-benar calon istri Om.” Ruangan langsung kembali sunyi. William menatap Freya tajam. “Kamu dibayar Gavin, kan, Fre?” tanyanya terang-terangan. “Biar Om bisa mencairkan warisan dari Opa.” Freya langsung menegang. Sementara Saras hanya menyilangkan tangan tanpa mencoba menghentikan putranya. Zendihara langsung mengernyit tidak suka. “William!” tegurnya. Namun William tetap menatap Freya tanpa berkedip. “Karena aku tahu Om Gavin,” lanjutnya dingin. “Dia nggak mungkin tiba-tiba mau menikah.” Tatapan William beralih penuh tantangan ke arah Gavin. “Atau jangan-jangan…” sudut bibirnya terangkat sinis, “pernikahan ini cuma kedok saja?” Ruangan langsung hening. William tertawa kecil sebelum melanjutkan dengan nada mengejek, “Makanya Om nggak pernah tertarik sama perempuan selama ini.” Saras langsung menatap Gavin tajam, seolah sengaja membiarkan putranya menyerang. Sementara Zendihara terlihat panik. “William!” tegurnya cepat. “Jangan bicara sembarangan!” Namun William tetap tersenyum tipis. “Bukannya seluruh keluarga juga sudah curiga?” katanya santai. “Umur Om sudah tiga puluh lima tahun tapi nggak pernah bawa perempuan mana pun ke rumah.” Tatapan sinisnya kembali jatuh pada Freya. “Makanya aku heran kenapa tiba-tiba sekarang langsung mau menikah.” Suasana mendadak terasa semakin panas. Zendihara menatap Gavin dengan wajah mulai cemas. “Gavin…” suaranya melemah. “Apa yang dikatakan William itu tidak benar, kan?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN