Menginap

1505 Kata
Freya tiba-tiba berdiri.Semua mata langsung tertuju padanya.Freya menatap William dengan wajah tenang, meski jantungnya berdetak keras. “Kalau memang dia tidak menyukai perempuan,” ucapnya perlahan, “lalu menurutmu bagaimana saya bisa berada di sisinya sekarang?” William langsung terdiam sesaat.Freya tetap berdiri di samping Gavin meski jantungnya berdetak keras. Tatapannya lurus pada William tanpa menghindar sedikit pun. “Dan satu lagi,” ucapnya tenang namun tegas, “tidak semua orang harus membuktikan kehidupan pribadinya hanya untuk memuaskan rasa penasaran orang lain.” Ruangan langsung hening. William tampak menahan emosi, sementara Saras mulai terlihat tidak nyaman. Gavin perlahan melangkah maju sedikit, berdiri sejajar dengan Freya. “Kalian sudah dengar sendiri,” katanya dingin. “Freya datang dan menerima lamaran saya atas keinginannya sendiri.” Tatapannya beralih tajam ke arah Saras dan William. “Jadi berhenti menyebarkan fitnah tentang saya hanya karena kalian tidak ingin saya mendapatkan hak warisan keluarga.” “Gavin!” bentak Saras marah. “Jangan asal menuduh!” Namun Gavin sama sekali tidak terlihat gentar. “Saya tidak menuduh,” balasnya tenang. “Saya hanya mengatakan kenyataan.” Aura dinginnya semakin terasa menekan ruangan. “Selama bertahun-tahun kalian yang terus menyebarkan rumor bahwa saya tidak menyukai perempuan,” lanjut Gavin tajam. “Dan sekarang saat saya membawa calon istri, kalian justru terlihat paling tidak terima.” Saras langsung mengepalkan tangannya. “Berani sekali kamu bicara seperti itu pada kakakmu sendiri.” Sebelum suasana semakin memanas, Zendihara tiba-tiba berdiri pelan. Wanita itu menatap Gavin dengan mata yang mulai berkaca-kaca. “Sudah cukup…” katanya lirih. Tatapannya kemudian beralih pada Freya. “Maaf kalau kamu harus melihat keributan keluarga kami malam ini.” Freya langsung menggeleng cepat. “Tidak apa-apa, Tante…” Zendihara tersenyum tipis lalu menggenggam tangan Freya lembut. “Terima kasih ya, Sayang…” suaranya hangat. “Karena sudah mau menerima Gavin.” Freya langsung terdiam sesaat. Entah kenapa, melihat ketulusan wanita itu membuat hatinya sedikit tidak nyaman. Karena semua ini… sebenarnya hanya kontrak. Sementara itu Saras langsung berdiri dengan wajah dingin. “Ayo pulang, William,” katanya tajam. “Tapi Mah—” William menatap Gavin penuh emosi. “Aku masih nggak terima! Om Gavin merebut Freya dari aku!” Saras langsung menarik lengan putranya kasar. “Untuk apa mempertahankan perempuan seperti dia?” ucapnya sinis sambil melirik Freya dari atas ke bawah. “Seribu perempuan lain bisa kamu dapatkan.” Wajah Freya langsung menegang mendengar ucapan itu. Namun sebelum ia sempat bereaksi, Gavin tiba-tiba berbicara dengan suara rendah yang dinginnya menusuk. “Tapi tidak semua perempuan bisa menolak putra Anda.” Langkah Saras langsung terhenti. Ruangan mendadak sunyi. Sementara William menatap Gavin dengan rahang mengeras, penuh amarah dan rasa dipermalukan. Saras langsung berbalik dengan wajah penuh amarah setelah mendengar ucapan Gavin. “Sombong sekali kamu,” desisnya tajam sambil menatap Freya penuh hinaan. “Dasar perempuan murahan.” Freya langsung menegang. Tangannya refleks mengepal di samping tubuhnya. Namun sebelum ia sempat membalas, Gavin sudah lebih dulu melangkah sedikit ke depan. Tatapannya dingin menusuk ke arah Saras. “Jaga ucapan Anda,” ucapnya rendah namun penuh tekanan. “Dia calon istri saya.” Saras tertawa sinis. “Kalau begitu cocok,” balasnya tajam. “Kalian sama-sama pandai mencari keuntungan.” “Mah, udah,” potong William dengan rahang mengeras, meski sorot matanya masih tertuju pada Freya. Tatapannya penuh emosi campur aduk. “Lihat saja nanti, Fre,” katanya dingin. “Kamu pasti akan menyesal.” Setelah mengatakan itu, William langsung berbalik pergi mengikuti Saras keluar dari mansion. Suasana rumah akhirnya sedikit tenang setelah mereka pergi. Zendihara menghela napas panjang, wajahnya terlihat lelah. “Sudahlah…” katanya lembut sambil mencoba tersenyum pada Freya dan Gavin. “Jangan dipikirkan ucapan mereka.” Wanita itu kemudian mengajak mereka menuju ruang makan. “Ayo makan malam dulu.” Freya mengangguk pelan lalu berjalan mengikuti mereka. Namun pikirannya masih dipenuhi ucapan William sebelumnya. “Dokter Gavin ini om yang sering diceritakan William…” batinnya pelan. “Katanya Tante Zendihara dulu perebut suami orang…” Freya diam-diam melirik wanita itu. Zendihara terlihat lembut, ramah, dan sama sekali tidak tampak seperti yang selama ini William ceritakan. “Mereka terlihat baik…” pikir Freya bingung. “Apa mungkin selama ini William berbohong?” Karena terlalu larut dalam pikirannya, Freya sampai tidak sadar Gavin sudah menarik kursi di sampingnya. “Jangan bengong terus,” ujar Gavin pelan. “Duduk.” Freya langsung tersadar. “I-iya…” Ia buru-buru duduk di samping Gavin. Beberapa detik kemudian, Zendihara tersenyum hangat pada Freya. “Kamu suka makanan apa, Sayang?” tanyanya lembut. “Kalau ada yang nggak cocok bilang saja ya.” Freya langsung salah tingkah mendengar panggilan itu. “Ah… saya nggak pilih-pilih makanan, Tante.” Zendihara tersenyum makin lembut. “Bagus sekali.” Tatapannya lalu beralih pada Gavin. “Jarang ada perempuan yang cocok menghadapi sifat dingin anak saya.” Gavin hanya diam sambil menuangkan minuman ke gelas Freya. Namun tindakan kecil itu membuat Zendihara tersenyum tipis penuh arti. Sementara Freya diam-diam melirik Gavin dari samping. “Dia ternyata bisa perhatian juga…” batinnya pelan. Suasana meja makan mulai terasa lebih tenang setelah Saras dan William pergi. Zendihara mengambilkan makanan untuk Freya dengan senyum hangat, berusaha menghilangkan ketegangan sebelumnya. Namun beberapa detik kemudian, wanita itu kembali menatap Freya dengan rasa penasaran yang masih tersisa. “Freya…” panggilnya lembut. “Mama boleh tanya sesuatu?” Freya langsung menegakkan duduknya. “Tentu, Tante.” Zendihara tersenyum tipis. “Kalian mulai pacaran sejak kapan?” Pertanyaan itu membuat tangan Freya langsung menegang di bawah meja. Belum sempat ia menjawab, Zendihara melanjutkan pelan, “Dan… apa benar kamu sebelumnya pacaran dengan William selama dua tahun? Lalu baru putus tadi pagi?” Jantung Freya langsung berdetak keras. Pertanyaan itu terlalu mendadak. Secara refleks, tangannya meremas tangan Gavin di sampingnya. Gavin langsung menoleh pelan ke arah Freya. Ia bisa merasakan jemari gadis itu dingin dan sedikit gemetar. Freya menelan ludah pelan. “I-itu…” Otaknya mendadak kosong. Karena gugup, tanpa sadar genggamannya pada tangan Gavin semakin erat. Gavin memperhatikan Freya beberapa detik sebelum akhirnya berbicara tenang, “Hubungan mereka memang sudah lama tidak baik.” Suara Gavin datar namun terdengar meyakinkan. “Freya memilih mengakhirinya pagi ini.” Zendihara terlihat sedikit terkejut. “Lalu kalian…” “Kami bertemu beberapa waktu lalu,” lanjut Gavin tanpa mengubah ekspresi. “Dan kami memutuskan menjalani hubungan serius.” Freya langsung melirik Gavin cepat. “Beberapa waktu lalu?” batinnya panik. “Kita baru kenal kemarin…” Namun ekspresi Gavin tetap tenang seolah semua itu benar adanya. Zendihara perlahan mengangguk. “Mama hanya takut kalian terburu-buru karena emosi sesaat,” ujarnya pelan. Freya buru-buru menggeleng. “Tidak, Tante…” Suara Freya akhirnya keluar meski masih sedikit gugup. “Saya… serius dengan hubungan ini.” Kalimat itu membuat Gavin menoleh padanya sesaat. Tatapan pria itu berubah sedikit lebih dalam. Sementara Freya sendiri buru-buru menunduk, merasa jantungnya berdetak terlalu cepat setelah mengatakan hal tersebut. Zendihara tersenyum lembut melihat interaksi mereka. “Kalau begitu Mama lega,” katanya hangat. Lalu wanita itu tertawa kecil. "Jarang sekali Gavin mau menggenggam tangan perempuan seperti tadi.” Freya langsung tersedak minumannya sendiri. Sementara Gavin hanya menatapnya tenang meski sudut bibir pria itu tampak sedikit terangkat samar. Makan malam berlangsung lebih tenang setelah itu. Zendihara beberapa kali mengajak Freya mengobrol ringan, mulai dari kuliah sampai makanan favoritnya. Entah kenapa, wanita itu terlihat sangat menyukai Freya sejak pertama bertemu. Setelah makan malam selesai, seorang pelayan mulai membereskan meja. Zendihara yang duduk di depan mereka tiba-tiba tersenyum lembut pada Freya. “Ini sudah malam sekali,” katanya pelan. “Freya, malam ini menginap saja di sini.” Freya langsung membelalak kecil. “Menginap…?” ulangnya gugup. Zendihara mengangguk penuh harap. “Iya.” Wanita itu tersenyum hangat. “Mama senang akhirnya Gavin membawa perempuan ke rumah ini.” Tatapannya melembut. “Selama ini Mama nggak pernah merasakan punya anak perempuan,” lanjutnya lirih. “Jadi kalau melihat kamu… rasanya Mama senang sekali.” Freya langsung salah tingkah mendengar ucapan itu. “Tapi Tante, saya takut merepotkan…” “Tidak merepotkan sama sekali,” potong Zendihara cepat. “Besok pagi Gavin bisa mengantarmu pulang.” Freya langsung melirik Gavin secara refleks. Pria itu sejak tadi diam sambil meminum tehnya dengan tenang. Namun saat menyadari tatapan Freya, Gavin akhirnya bicara singkat, “Kamu bisa menginap.” Nada suaranya santai, seolah itu hal biasa. Justru itu yang membuat Freya makin gugup. "Menginap… di rumah Gavin…” batinnya panik. Ia langsung teringat kejadian malam sebelumnya di hotel. Pipi Freya perlahan memanas sendiri. Zendihara yang melihat Freya diam malah tersenyum geli. “Kamu malu ya?” tanyanya lembut. Freya langsung tersedak kecil. “B-bukan begitu, Tante…” Zendihara tertawa pelan. “Tenang saja.” Tatapannya bergantian ke Gavin lalu kembali ke Freya. “Mama tahu Gavin bukan pria sembarangan.” Freya langsung menunduk cepat sambil menggigit bibirnya. “Kalau Tante tahu kejadian semalam…” batinnya kacau. Sementara di sampingnya, Gavin diam-diam melirik wajah Freya yang mulai merah. Sudut bibir pria itu terangkat tipis, hampir tak terlihat.Dan itu justru membuat Freya semakin salah tingkah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN