Seperti patung yang terpasang permanen di ambang pintu, tubuhku sama sekali tak bisa bergerak. Terpana memandangi sebuah mobil yang terparkir tepat depan rumahku. Bunyi klakson dua kali berikutnya, sama sekali tidak membuat bergerak dari tempat terpaku apalagi mendatanginya. Seseorang yang berada dalam mobil dengan kaca gelap yang masih tertutup itu pun sepertinya masih belum mau turun untuk menemuiku. Entah apa yang ada dalam pikirannya. Apakah dia juga sama denganku yang masih mencari-cari akal agar bisa menolak ajakannya dengan halus. Sejatinya ini sebuah peluang yang belum tentu akan datang dua kali. Aku bisa bertemu dengan Mama dan kedua adikku tanpa harus mengeluarkan biaya serupiah pun. Namun jika teringat kembali pada cerita Alvin. Persahabatan yang sudah terjalin sejak SMP menja