Bab 3 Tim Pengumpul Mayat

1101 Kata
Beberapa waktu lalu, setiap kali tidur ia selalu terbangun karena rasa sakit. Kalau saja keberuntungannya sedikit lebih buruk, mungkin ia sudah mati sejak lama. Selama beberapa waktu terakhir, ia juga berhasil mengumpulkan cukup banyak informasi berguna. Kabarnya, ketika mana mencapai 500 poin, seseorang akan memasuki tahap kecil yang disebut Calon Profesional. Jika memiliki cukup uang, seseorang bisa membeli ramuan bakat, yang memberi peluang untuk membangkitkan kemampuan bakat. Tentu saja, ada juga orang-orang berbakat luar biasa yang bisa membangkitkan bakat tanpa bantuan ramuan. Rody berharap dirinya termasuk tipe itu. Karena harga ramuan itu… Benar-benar mahal. ------- Blok Jalan Timur No. 23. Di sinilah tempat kerja Rody, beberapa jalan jauhnya dari tempat tinggalnya. Di kota ini tidak ada polisi ataupun pasukan penjaga keamanan. Sebaliknya, para genglah yang menetapkan aturan paling dasar bagi kehidupan di kota ini. Tim pengumpul mayat tempat Rody bekerja berada di bawah naungan “Klub Tinju Besi”, salah satu organisasi terbesar yang menguasai wilayah Kota Timur. Namun, sebenarnya Rody bukan anggota resmi geng tersebut. Statusnya lebih mirip pekerja luar dalam sebuah instansi—semacam pegawai kontrak. Atau lebih tepatnya… pekerja luar yang bahkan tidak benar-benar diakui. Singkatnya, hanya buruh sementara. Daerah ini jauh lebih ramai. Suara riuh manusia tak pernah berhenti. Di kedua sisi jalan tergantung berbagai papan reklame neon berwarna-warni. Cahaya lampu neon yang menyilaukan menerangi seluruh jalan, bahkan membuat permukaan aspal tampak berkilau. Sesekali, kendaraan bermesin uap melintas di jalan raya, memberi suasana yang terasa sangat futuristik. Padahal hanya terpisah beberapa jalan dari kawasan kumuh, tetapi tempat ini terasa seperti dunia yang sama sekali berbeda. Di sebuah sudut jalan, sebuah truk uap terparkir. Dari bagian depan kendaraan itu, uap panas terus mengepul. Di sinilah tempat Rody memulai pekerjaannya. Ketika ia tiba, sudah ada empat atau lima orang menunggu di dekat truk. Ada yang duduk, ada yang berdiri—mereka semua anggota tim pengumpul mayat. “Rody, ke sini sebentar. Kapten mencarimu.” Rody baru saja hendak menyapa mereka ketika seseorang memanggilnya. Orang yang memanggil itu bernama Rola, wakil kapten tim ini. Rody melirik sekilas ke arah truk, lalu mengerutkan kening. Ia berjalan ke jendela kendaraan dan mengetuknya pelan. Jendela itu segera turun. Di dalamnya duduk seorang pria berkepala plontos, usianya sekitar dua puluhan. Wajah dan kepalanya dipenuhi tato yang tidak dikenali Rody. Tato itu begitu rapat hingga dari sekali pandang saja sudah terlihat bahwa pria ini bukan orang baik-baik. Kalau saja kulitnya berwarna biru, orang ini mungkin bisa langsung cosplay sebagai Penyihir Pengembara. Pemuda itu bernama Bunian, anggota resmi Klub Tinju Besi sekaligus kapten tim pengumpul mayat. Bunian melirik arlojinya. “Nak, kamu terlambat lima menit hari ini.” Rody ikut melirik jam mekaniknya sendiri. Jika jamnya tidak rusak, seharusnya ia tidak terlambat sama sekali. Artinya jelas—orang ini sedang mencari alasan untuk memerasnya lagi. “Memang benar-benar masyarakat yang kacau. Pemerasan ada di mana-mana.” Rody mengumpat dalam hati, tetapi wajahnya tetap tenang. “Kapten, maaf. Di jalan tadi saya mengalami sedikit masalah. Mohon dimaklumi.” Sambil berkata begitu, Rody menyelipkan setumpuk uang kertas ke dalam jendela mobil. Itu adalah seluruh uang yang ia dapatkan dari menjual pakaian bekas kemarin. Bunian menerima uang itu dengan sangat alami, bahkan tidak repot-repot menghitungnya. “Hm. Karena sikapmu cukup baik dalam mengakui kesalahan, kali ini kita lupakan saja. Lain kali jangan sampai terulang.” “Tentu. Terima kasih, Kapten! Kalau begitu saya pergi bersiap dulu.” Setelah menyuap—eh, mengakui kesalahan, Rody segera meninggalkan Bunian. Ia tidak ingin berlama-lama berada di dekat penghisap darah itu. “Eh, bro. Kapten tadi nyari kamu buat apa? Jangan-jangan minta uang lagi?” Rody menoleh. Pria yang bertanya itu sepertinya bernama Rael, salah satu anggota lama di tim ini. “Tidak kok. Cuma memanggilku untuk ngobrol sebentar.” Sifat Bunian sudah diketahui semua orang di sini. Namun Rody tidak ingin membicarakannya lebih jauh. Ia tidak masuk tim ini melalui jalur resmi. Satu-satunya orang yang bisa menjadi sandarannya hanyalah Bunian. Di tim ini, ia boleh saja menyinggung siapa pun—kecuali Bunian. Selain dirinya, hampir semua anggota tim memiliki hubungan dengan anggota geng tertentu. Mereka mungkin tidak takut diperas Bunian, tetapi tetap harus memberikan uang setoran kepada anggota geng lainnya. Kalau tidak, mana mungkin pekerjaan yang begitu santai diberikan kepada mereka? --- Kota Kegelapan tidak memiliki perbedaan siang dan malam. Namun, selama masih ada jam mekanik, orang tetap bisa mengetahui waktu. Sekitar pukul sembilan malam, Bunian menjulurkan kepalanya keluar dari jendela truk dan menatap Rody serta yang lainnya. “Ayo. Naik. Waktunya kerja.” Begitu menerima perintah, mereka berhenti mengobrol dan segera naik ke kendaraan. Tugas mereka sederhana—duduk di bak truk sambil mengikuti kapten berpatroli. Di mana ada mayat, ke situlah mereka pergi. Bak belakang truk itu setengah tertutup. Kondisinya sangat buruk. Dindingnya dipenuhi noda hitam kecokelatan—bekas darah yang telah mengering. Bau amis yang menyengat memenuhi seluruh ruang, cukup kuat hingga membuat hidung perih. Namun semua orang sudah terbiasa dengan lingkungan kerja seperti ini. Mereka hanya mengobrol santai tentang berbagai hal yang tidak penting. Tak lama setelah truk berjalan, mereka mendengar suara tembakan. “Kekacauan mulai lagi.” Salah satu anggota tim berkata dengan nada datar, seolah kejadian seperti ini adalah hal biasa. Dan memang benar. Ini adalah wilayah luar Kota Kegelapan. Balapan liar, perampokan, pemerkosaan, perkelahian karena mabuk, pertengkaran kecil, hingga perang antar geng memperebutkan wilayah. Seolah sudah menjadi kesepakatan tak tertulis—setiap kali melewati pukul sembilan malam, kekacauan akan dimulai. Dan di mana ada kekacauan, pasti ada kematian. Mereka adalah pembersih setelah kekacauan itu berakhir. Truk berhenti di sebuah persimpangan jalan. Dari sini, suara tembakan terdengar jauh lebih jelas. Di kejauhan, kilatan api dari moncong senjata terlihat samar di dalam kegelapan. Bunian turun dari truk dan mencabut pistol dari pinggangnya. Situasi kali ini tampaknya sedikit berbeda dari biasanya. Tembakan terdengar jauh lebih padat, bahkan sesekali terdengar suara ledakan bom. Rody juga turun dari kendaraan dan diam-diam bersembunyi di belakang truk. Ia menatap kilatan api sekitar lima ratus meter di depan dengan perasaan agak bersemangat. Semakin sengit pertempuran, semakin banyak orang yang mati. Artinya… ia bisa mendapatkan lebih banyak poin atribut. “Ayo bertarung saja… kalau bisa, semoga ada beberapa pengguna profesi yang mati.” Selama ini, Rody hanya pernah menyentuh mayat orang biasa. Ia bahkan belum tahu apa perbedaan antara mayat seorang profesional dengan orang biasa. Andai saja ia bisa menemukan satu… Rody berpikir dalam hati. Beberapa menit kemudian, suara tembakan akhirnya mulai mereda. Entah apakah pertempuran sudah berakhir. Bunian tidak menyuruh mereka pergi memeriksa keadaan. Itu memang bukan bagian dari tugas mereka. Beberapa saat kemudian, alat komunikasi rune yang terpasang di bahu Bunian tiba-tiba berbunyi. Perintah baru datang. Saatnya… mengumpulkan mayat. ​ Bersambung......
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN