Bab 2 Lebih Indah dari Bunga

1073 Kata
Ferdian menunduk, kedua tangannya bertumpu di sisi tubuh Johanna, mengurungnya di antara dirinya dan ranjang. Jarak mereka sangat dekat. Sangat dekat… hingga napas mereka saling berbaur. Tatapannya jatuh pada wajah Johanna. Kulitnya halus, lembut, dengan rona merah malu seperti bunga persik yang sedang mekar. Ia menatapnya cukup lama. Lalu, dengan suara rendah dan tenang, ia bertanya— “Jadi… kita lanjut?” ----- Begitu mendengar itu, mata Johana langsung membesar. “Melakukan…?” Yang dimaksud itu… yang itu? Wajahnya yang memang sudah merona, kini semakin merah hingga ke ujung telinga karena ucapan pria yang begitu blak-blakan. “Secepat itu…?” Sejujurnya, dia belum siap. Belum siap menjalani… hubungan suami istri dengannya. Apa yang terjadi kemarin dan hari ini benar-benar di luar dugaan. Pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya… tiba-tiba berubah menjadi suaminya. Dan sekarang, mereka harus tidur seranjang, bahkan melakukan hal-hal yang seharusnya dilakukan pasangan suami istri. Ini… terlalu mendadak. Dia belum bisa menerimanya. Mata Ferdian Chandra yang gelap seperti obsidian menatapnya dalam, suaranya tenang namun tegas. “Malam ini adalah malam pertama kita.” Johana menggigit bibir. Tentu saja dia tahu. Tapi tahu bukan berarti siap. Melihat Johana diam, Ferdian mengira itu adalah bentuk persetujuan. Ia pun perlahan mendekat, tatapannya terkunci pada bibir merah lembut gadis itu. Ia ingin menciumnya. Napas hangatnya menyentuh kulit Johana, membuat tubuhnya sedikit bergetar. Secara refleks, ia menoleh, menghindari ciuman itu. Alis Ferdian sedikit berkerut. Dengan jari panjangnya, ia mencubit dagu Johana dan memaksanya kembali menghadap, lalu kembali mendekat. Wajah tampan pria itu kini begitu dekat. Bibir tipisnya perlahan mendekat. Johana menegang. Ia menutup mata rapat-rapat, napasnya tak teratur, jantungnya berdebar hebat. Namun— Ferdian justru berhenti. Ia menatap wajah gadis itu cukup lama… lalu melepaskan pegangannya. Tak ada kelanjutan. Beberapa detik berlalu. Johana membuka mata perlahan. Saat melihat ekspresi datar pria itu, hatinya langsung menciut. “Maaf… aku… belum terbiasa dengan status baruku.” Ia menunduk, suaranya pelan. “Boleh… nanti saja?” Ferdian menatapnya. “Nanti itu kapan?” Johana menggigit bibir. “Aku… juga belum tahu. Tapi… tidak akan lama.” Ferdian terdiam cukup lama. Sampai Johana mulai berpikir… pria itu akan menolak, atau bahkan memaksanya. Namun ternyata tidak. Ia hanya berdiri, berjalan ke sisi lain ranjang, lalu berbaring. “Tidur saja.” Johana langsung menghela napas lega. Untung saja… dia tidak memaksanya. Memang, hal seperti itu seharusnya terjadi karena saling suka, bukan karena paksaan. Johana pun ikut berbaring di sisi lain. Jarak mereka… bahkan cukup untuk dua orang dewasa lagi. Mungkin, tidak banyak pasangan pengantin baru yang tidur sejauh ini. Tapi wajar saja. Dia tidak punya perasaan untuknya. Dan pria itu… mungkin lebih tidak punya perasaan lagi. Ya sudah. Begini saja… sudah cukup baik. Namun baru saja ia hendak memejamkan mata— Tiba-tiba, pria di belakangnya mendekat sedikit. Johana langsung tegang, refleks menoleh. Ferdian berkata datar, “Selimutnya terlalu pendek. Tidak sampai.” Johana langsung tersipu. Ternyata… dia hampir menarik seluruh selimut ke tubuhnya sendiri. Di sisi pria itu, hanya tersisa sedikit—bahkan hanya menutupi perut. “Ah… maaf.” Ia segera menggeser selimut. “Malam.” “Hmm, malam.” Setelah saling mengucapkan selamat malam dengan canggung— Lampu dimatikan. Ruangan menjadi gelap. Johana sempat mengira dirinya akan sulit tidur. Namun tak disangka, tak lama kemudian ia sudah terlelap. — Pagi hari. Dalam keadaan setengah sadar, ia merasa seseorang memanggilnya. “Hmm… jangan…” Ia membalikkan badan dan menepis tangan yang menyentuhnya. Namun detik berikutnya— Ia langsung terbangun. Di hadapannya, Ferdian Chandra sudah berpakaian rapi, duduk di tepi ranjang, menatapnya. Johana langsung duduk, memeluk selimut. “Se-selamat pagi…” Pria itu mengenakan setelan jas hitam dengan kemeja abu-abu. Dua kancing atas terbuka, memperlihatkan tulang selangka yang tegas dan… entah kenapa, cukup memikat. Aura dingin dan berwibawanya membuat suasana langsung terasa tegang. Hanya dengan satu tatapan saja, napas Johana terasa sedikit tercekat. “Cepat bangun,” ucapnya datar. “Keluarga Fu punya aturan. Pengantin baru harus menyajikan teh kepada para tetua.” Johana mengangguk cepat. “Oh… baik.” Ferdian melanjutkan, “Setelah itu, kita makan bersama. Lalu aku akan membawamu ke rumah yang kubeli sebelum menikah. Kita akan tinggal di sana.” Johana kembali mengangguk. “Baik.” — Beberapa saat kemudian, setelah bersiap— Johana menatap dirinya di cermin. Gaun merah muda yang ia kenakan sederhana, dengan tali tipis di bahu. Ada hiasan bunga mawar kecil di salah satu sisi. Cantik. Atau… lebih tepatnya, membuatnya terlihat semakin lembut dan manis. Saat ia keluar— Ferdian menatapnya sejenak. Satu kata langsung terlintas di benaknya: Lebih indah dari bunga. Johana yang menyadari tatapan itu langsung gugup. “Ini… bagus tidak?” Ferdian mengangguk ringan. “Lumayan.” Johana mengerucutkan bibir. Lumayan itu maksudnya bagus atau tidak, sih…? Pria itu bangkit, lalu mengulurkan tangan. “Ayo. Jangan membuat mereka menunggu.” Johana menatap tangan itu sejenak… lalu perlahan meletakkan tangannya di sana. Hangat. Berbanding terbalik dengan tangannya yang dingin. Ferdian sedikit mengernyit. “Tanganmu berkeringat.” Wajah Johana langsung memerah. Tentu saja… karena gugup! Namun ia hanya diam. Ferdian tidak melanjutkan, hanya menggenggam tangannya dan membawanya keluar. — Di lantai bawah, keluarga besar sudah berkumpul. Johana hampir kewalahan melihat begitu banyak orang. Untungnya, Ferdian mendampinginya satu per satu. Ia menyajikan teh, menerima angpao, dan ucapan selamat. Anehnya— Tidak ada satu pun yang mempermasalahkan pernikahan mendadak ini. Semua berjalan… hangat. — Saat makan bersama— Johana hanya berani menunduk dan makan diam-diam. Tiba-tiba— Sepotong daging masuk ke mangkuknya. Ia mendongak. Ferdian. Pria itu sudah kembali makan seperti biasa, seolah tidak terjadi apa-apa. Johana diam sejenak… lalu memakannya. Dan— Enak sekali. Tanpa sadar, ia jadi tersenyum kecil. Ferdian, yang melihat dari sudut matanya, diam-diam kembali menambahkan lauk ke mangkuknya. Johana berbisik pelan, “Terima kasih… sudah cukup.” Namun tampaknya tidak terdengar. Atau… diabaikan. Akhirnya, ia menghabiskan semuanya. Dan entah kenapa, wajahnya terasa hangat. Ini… bisa dibilang ciuman tidak langsung, ya…? — Setelah makan— Mereka meninggalkan rumah keluarga. Di dalam mobil, Johana memandangi keluar jendela. Perasaan hangat yang tadi ia rasakan… masih tersisa. Ferdian meliriknya. “Melamun?” Johana menggeleng. “Tidak.” Lalu, ia berkata pelan, “Terima kasih… tadi.” “Untuk apa?” “Untuk… mengambilkan makanan.” Ferdian menghela napas ringan. “Kalau aku tidak ambilkan, kamu tidak bisa ambil sendiri?” Johana tersipu. “Aku cuma berani ambil yang dekat…” Ferdian terdiam. Lalu berkata singkat, “Kalau tidak sampai, bilang saja padaku.” Johana mengangguk. Ternyata… pria ini tidak sedingin yang terlihat. ​ Bersambung.....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN