Bab 1 Malam Pertama Pernikahan
Bab 1 Malam Pertama Pernikahan
Johanna kini berada di sebuah kamar pengantin yang dihias serba merah, penuh nuansa kebahagiaan… setidaknya, seharusnya begitu.
Ia duduk di tepi ranjang dengan seprai merah menyala, mengenakan piyama tertutup yang rapi. Dari kamar mandi, terdengar suara air shower yang mengalir deras.
Suasana canggung menyelimuti ruangan itu.
Hari ini… adalah hari pernikahannya.
Dan pria yang sedang mandi di dalam sana—adalah suami barunya, Ferdian Chandra.
Namun, sebelum hari ini…
Pria itu adalah tunangan kakaknya.
Dan selama lima tahun terakhir, Johanna memanggilnya… kakak ipar.
Tapi sekarang, setelah satu hari penuh pernikahan—
Status itu berubah begitu saja.
Dari “kakak ipar”… menjadi “suami”.
Semuanya bermula sehari sebelum pernikahan.
Sebuah video dikirim secara anonim ke ponsel Ferdian—video yang memperlihatkan kakaknya, Jolin, sedang bersama mantan kekasihnya.
Ferdian datang langsung ke rumah keluarga mereka, membawa bukti itu. Setelah memastikan kebenarannya, ia langsung memutuskan untuk membatalkan pernikahan.
Tak peduli bagaimana keluarga Johanna memohon, bahkan saat Jolin menangis, mengamuk, hingga mengancam hal-hal dramatis—keputusan Ferdian tak tergoyahkan.
Masuk akal, sih.
Siapa yang bisa menerima kenyataan bahwa calon istrinya berselingkuh tepat sebelum hari pernikahan?
Kalau Johanna berada di posisinya, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama.
Memangnya enak berjalan-jalan dengan “mahkota hijau” di kepala?
Sama sekali tidak.
Masalahnya… keluarga Ferdian adalah keluarga paling berpengaruh di kalangan elit ibu kota. Status dan kekuasaan mereka berada di puncak.
Keluarga Johanna tentu tidak ingin kehilangan kesempatan emas itu.
Dan entah bagaimana…
Mereka justru mendorong Johanna—si anak bungsu—untuk menggantikan posisi kakaknya.
Menikah dengan Ferdian.
Undangan sudah tersebar.
Mahar sudah diterima.
Semua persiapan sudah selesai.
Kalau pernikahan dibatalkan sekarang, keluarga mereka akan menjadi bahan tertawaan seluruh kota.
Jadi… pernikahan ini tidak boleh batal.
Johanna yang awalnya hanya berniat jadi “penonton drama keluarga” sambil makan camilan, tiba-tiba malah terseret masuk ke dalam drama itu sendiri.
Awalnya ia yakin Ferdian pasti akan menolak ide gila ini.
Bagaimanapun juga, ia sudah memanggil pria itu “kakak ipar” selama bertahun-tahun, dan Ferdian juga memperlakukannya sebagai adik ipar.
Mana mungkin seorang kakak ipar menikahi adik iparnya sendiri?!
Dia yakin… pria itu akan menolak.
Namun—
Ferdian hanya meliriknya sekilas.
Dan… mengangguk setuju.
Begitu saja.
Keesokan harinya, Johanna mengenakan gaun pengantin putih, menggantikan kakaknya… dan menikah dengan pria yang seharusnya menjadi kakak iparnya.
…
Semakin dipikirkan, semakin kacau.
Telapak tangan Johanna mulai berkeringat.
Malam ini adalah malam pertama mereka.
Apa yang harus ia lakukan nanti?
Jangan bilang mereka benar-benar harus… menjalani malam pengantin seperti pasangan normal?
Hanya mereka berdua…
Dalam satu kamar…
Klik!
Pintu kamar mandi terbuka.
Jantung Johanna berdegup kencang saat ia refleks mengangkat pandangannya.
Ferdian keluar, tubuhnya masih diselimuti uap hangat.
Wajahnya tampan dengan garis tegas, mata dalam, hidung tinggi, dan bibir tipis yang rapi.
Tubuhnya tinggi dengan bahu lebar dan pinggang ramping. Kakinya panjang dan proporsional.
Ia mengenakan jubah tidur abu-abu dengan potongan V yang dalam—menampakkan tulang selangka yang indah dan d**a bidang yang samar terlihat.
Aroma maskulin bercampur wangi kayu pinus yang dingin langsung memenuhi ruangan.
Johanna belum pernah melihat sisi dirinya yang seperti ini.
Di matanya, Ferdian selalu tampil rapi dengan setelan jas, kaku, disiplin, dan sulit didekati.
Dingin… bahkan terkesan tak tersentuh.
Setiap kali bertemu, Johanna hanya berani menyapa pelan, “Kakak ipar…” dan sering kali, pria itu bahkan tidak merespons.
Sulit didekati.
Itu kesimpulan akhirnya.
Karena itu, Johanna sudah membayangkan masa depan pernikahannya akan penuh penderitaan.
Bahkan… ia sudah siap mental untuk hidup seperti “janda dalam pernikahan”.
Namun sekarang…
Melihat pria itu berjalan mendekat—
Kalau dia bilang tidak gugup, itu bohong besar.
Tangannya mencengkeram seprai tanpa sadar.
Tubuhnya bergeser sedikit ke belakang.
“Ka—kakak ipar…”
Ferdian berhenti sejenak.
Alisnya berkerut tipis.
“Kamu memanggilku apa?”
Johanna terdiam.
…Refleks.
Sudah kebiasaan.
Ferdian menatapnya tenang, lalu berkata datar,
“Sekarang kita sudah menikah. Biasakan memanggil dengan benar.”
Ganti panggilan?
Jadi… harus panggil apa?
“Suami”…?
Tidak mungkin keluar dari mulutnya sekarang juga.
Mereka bahkan tidak dekat.
Selama bertahun-tahun, jumlah percakapan mereka mungkin bisa dihitung dengan sepuluh jari.
Kalau tidak “suami”… lalu apa?
“Ferdian Chandra”?
Terlalu formal.
“Tian…”?
Terlalu… intim.
“Kak Ferdian”…?
Aneh.
Johanna ragu-ragu sebelum akhirnya berkata pelan,
“Kalau begitu… aku panggil kamu Tuan Ferdian?”
Ferdian mengerutkan kening.
“Ada istri yang memanggil suaminya ‘tuan’?”
Johanna langsung gugup lagi.
“Kalau… Kak Ferdian?”
Ferdian terdiam.
…Entah kenapa terdengar seperti dia jauh lebih tua.
Nada suaranya sedikit menurun,
“Ganti lagi.”
Johanna menelan ludah.
“Kalau… Ferdian saja?”
Pria itu diam sejenak.
Lalu mengangguk.
“Baik. Pakai itu.”
Johanna menghela napas lega.
Masalah panggilan… selesai.
Tapi—
Bagaimana cara berinteraksi dengannya?
Canggung sekali!
Dengan suara kecil, ia bertanya,
“Ehm… malam ini… kamu tidur di sini?”
Ferdian meliriknya sekilas.
“Ini kamar pengantin kita.”
Kalau bukan di sini, lalu di mana?
Johanna makin tegang.
“Kalau begitu… kita…”
Ferdian tidak menjawab.
Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Johanna, menatapnya dari atas.
Aura dingin yang menekan.
Johanna refleks mundur sambil memeluk selimut.
“Kamu… mau apa?”
“Tidur.”
“Tidur… bagaimana?”
Begitu kata-kata itu keluar, Johanna ingin menampar dirinya sendiri.
Apa sih yang dia katakan?!
Ferdian tetap tenang.
“Kamu maunya bagaimana?”
Wajah Johanna memerah.
“A-aku tidur di kiri… kamu di kanan… ya?”
Ferdian menatapnya, lalu berkata datar,
“Malam ini adalah malam pertama kita.”
Johanna membeku.
Pipinya makin panas.
Ferdian menatapnya dalam-dalam.
“Pernah punya pria sebelumnya?”
Napas Johanna sedikit tersengal.
Ia tahu maksud pertanyaan itu.
Dengan malu, ia menggeleng.
“Tidak…”
Mata Ferdian sedikit menggelap.
Tanpa berkata apa-apa, ia mendekat.
Aroma sabun yang sama tercium dari tubuh Johanna, bercampur dengan wangi lembut khas dirinya.
Tubuh gadis itu langsung menegang.
Matanya yang jernih menatap Ferdian dengan panik—seperti rusa kecil yang terkejut.
Ferdian menunduk, kedua tangannya bertumpu di sisi tubuh Johanna, mengurungnya di antara dirinya dan ranjang.
Jarak mereka sangat dekat.
Sangat dekat… hingga napas mereka saling berbaur.
Tatapannya jatuh pada wajah Johanna.
Kulitnya halus, lembut, dengan rona merah malu seperti bunga persik yang sedang mekar.
Ia menatapnya cukup lama.
Lalu, dengan suara rendah dan tenang, ia bertanya—
“Jadi… kita lanjut?”
Bersambung.....