Saat ini, Armand masih duduk di kursi kebesarannya, menatap ponsel di atas meja kerjanya yang belum ia sentuh lagi sejak terakhir kali benda itu terlepas dari tangannya. Foto itu ... Bruno. Pria ini menutup matanya sejenak. Napasnya berat, rahangnya mengeras. Armand telah mengenal sahabatnya itu sejak belasan tahun yang lalu—keras kepala, kasar, tapi setia. Dan kini, yang tersisa dari kesetiaan itu hanyalah tubuh yang babak belur dan dikirimkan kepadanya sebagai pesan. Dalam keheningan yang menyesakkan itu, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu. "Armand." Isabel masuk dengan langkah cepat, sepatu haknya menghantam lantai marmer dengan bunyi tajam. Rambutnya tergerai melewati pundak, gaunnya mahal, tapi wajah wanita itu tegang—terlalu tegang untuk seorang

