Setelah semua yang terjadi, rasanya masih seperti mimpi. Deana berjalan ke sisi jendela, membuka gorden putih itu secara perlahan. Memperlihatkan pemandangan ibu kota pagi hari yang berembun akibat hujan semalaman. Deana membuka jendela itu sedikit, membuat udara di luar menyentuh kulitnya. Terasa dingin, namun menyejukkan. Lagi dan lagi, Deana menarik napas dalam, mengambil sebanyak-banyaknya oksigen, kemudian mengeluarkannya dengan begitu lega. Ia masih tidak menyangka jika semuanya kini sudah berakhir. Dalam hati, Deana kembali merapalkan doa. Berharap semua akan kembali baik-baik saja setelah ini. Fokusnya buyar ketika sebuah suara mengalihkan pandangannya. Deana langsung menjauh dari jendela dan berjalan ke sisi ranjang, merubah posisi bantal agar siempunya bisa bersandar dengan

