Siapa sangka, Orang yang ditabraknya di koridor café ternyata adalah seseorang yang selama ini hanya hidup dalam kenangan samar dan luka batin yang tak pernah sembuh. Shava. Kakaknya. Kakaknya satu-satunya. Perempuan tinggi dengan senyum lembut itu kini berdiri di hadapannya, masih sama seperti dulu… hanya saja kini lebih dewasa, lebih matang, dan sorot matanya menyimpan banyak cerita yang belum sempat terucap. Zivanna tak sanggup berkata-kata. Air matanya luruh begitu saja, bahkan sebelum ia bisa membuka mulut. Ia langsung memeluk perempuan itu erat, seerat yang ia bisa. Tubuhnya bergetar menahan tangis, seperti anak kecil yang akhirnya menemukan rumah setelah tersesat terlalu lama. “Kak Shava…,” isaknya pelan. “Kak Shava…” Shava memeluk Zivanna erat, mengelus rambut adiknya yang kini