Zivanna terbangun dari tidurnya sebab suara dering ponsel yang memecah sunyi dini hari. Matanya mengerjap pelan, setengah sadar, dan tangan mungilnya meraba permukaan meja nakas, mencari-cari sumber suara itu dalam gelap. Saat layar ponsel menyala, nama yang tertera di sana membuat jantungnya berdetak lebih cepat. “Om Hakim,” gumamnya. Tanpa pikir panjang, ia langsung mengangkat. “Halo… Om?” suaranya masih serak dan lembut karena baru bangun. “Ada apa…?” gumamnya pelan, sambil setengah duduk dan menarik selimut menutupi tubuhnya yang menggigil oleh angin dini hari. Di seberang sana, terdengar tawa ringan yang rendah, seperti desir angin malam yang menyapu lembut telinganya. “Maaf…” suara itu terdengar begitu lembut, begitu dalam. “Saya membangunkan kamu, ya?” Zivanna mengusap matanya pe