Tidak Zivanna sangka, bahwa dirinya bisa duduk berhadapan, hanya sejengkal meja kayu dan dua gelas minuman dingin, dengan pria yang paling tega merobek kepercayaannya. Yang meninggalkannya di altar, di hari yang seharusnya menjadi milik mereka. Yang menghilang tanpa jejak, membuat seluruh harga dirinya jatuh, dan kini duduk santai di depannya, seperti tidak ada yang pernah patah. Krisna bersandar, wajahnya tampak lebih tua dari terakhir kali Zivanna melihatnya. Ada kelelahan di balik bola matanya, tapi tidak cukup membuat Zivanna luluh. “Jelasin,” ucap Zivanna dengan suara yang terkontrol, namun jelas penuh gemuruh. “Maksud lo apa, tentang Hakim yang terlibat?” Krisna menghela napas berat. Lama. Seolah menimbang apa yang boleh dan tidak boleh diucapkan. Tapi akhirnya dia bicara, dengan